SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #13

Bab 12 — Tuang Batas

"Dua orang di rusuk trapesium saling menyumpahi hitungan; mereka mendebat garis mana yang memanjang. Saling menuduh buta, tanpa pernah sudi melangkah ke seberang."


Rumah itu sudah meminum habis cahaya senja saat Kasapi mendorong pintu pagar . Engsel besinya berdecit pendek, disusul bunyi retakan tanah kering yang terinjak di bawah telapak sepatunya. Udara halaman masih menyimpan bau debu dan sisa panas seng tempat tidur tetangga.

Di teras, Kakek duduk di atas bangku kayu dengan satu kaki dilipat ke atas. Jemarinya yang kecokelatan dan bergetar tipis menggenggam pisau raut kusam, mengelupas kulit singkong rebus yang baru diangkat dari kukusan. Keasapan hangatnya membawa bau uap daun pisang yang mengendap tebal di sekitar sudut teras.

"Sore."

Kakek tidak mendongak. Ujung pisaunya terus bergerak searah serat singkong, menyisakan jalur putih licin di bawah kulit abu-abu. "Tadi dari Pasar Lama?"

"Iya."

Kasapi melepas tasnya. Tali terpal tas itu berbunyi buuk saat membentur lantai semen. Ia duduk di pinggiran ubin, membiarkan dadanya terpapar angin sore yang berbau jelaga dan kotoran ayam yang mulai naik ke dahan pohon jambu.

Kakek menyodorkan potongan singkong tanpa menatapnya. Permukaan kayu bangku berderit kencang saat beliau menggeser tumpuan berat badannya. Di bawah kuku jempol Kakek, ada kerak hitam tanah liat yang tak pernah benar-benar bersih sejak tiga dekade lalu—jejak kerja yang membeku jadi warna kulit.

Kasapi meraih bungkusan berikat tali rami dari saku tasnya. Suara gesekan kertas koran bekas terasa sangat nyaring di antara ketukan pisau Kakek pada tampah bambu.

"Bawa apa?"

"Hadiah."

Gerakan pisau Kakek tertahan sepersekian detik. Mata pisau itu berhenti tepat di tengah lipatan daging singkong yang belum terbelah.

"Roti sisir kemarin kemasukan semut," Kasapi meratakan tali rami di atas pangkuannya. "Mereka cuma mau ganti itu."

Kakek memindahkan potongan singkong ke mulutnya. Ia mengunyah pelan, rahangnya yang tinggal memiliki beberapa gigi bergerak naik-turun dalam irama yang lambat. Bau uap singkong bercampur dengan aroma minyak kayu putih yang selalu menguap dari lipatan leher baju burkatnya.

"Garamnya di meja dapur," kata Kakek sambil membuang kulit singkong ke tanah. Beliau tidak bertanya berapa harga bungkusan itu, atau siapa yang membayar tali raminya. Namun, tangannya yang memegang pisau perlahan diturunkan, membiarkan ujung besinya tertancap licin pada potongan kayu di bawah bangku. "Kalau besok ketemu anak-anak itu di jalan... ambilkan rambutan di pohon samping. Yang di dahan bawah sudah matang."

Kasapi menatap punggung Kakek yang membongkok, kaus kutangnya yang membayang abu-abu tertutup jelaga dapur. "Iya Kek."

Bayangan pohon mangga merayap panjang seperti lidah hitam, menyapu kaki mereka berdua sebelum akhirnya tenggelam saat lampu jalan di luar pagar berkedip dua kali dan menyala kekuningan.

Kamar itu berbau kertas basah dan kapur barus tua.

Kasapi meletakkan bungkusan berikat rami itu di atas meja belajar, persis di samping tempat tinta stensil yang sudah mengering. Ia tidak segera menyalakan lampu neon. Dalam remang biru tua yang merembes dari balik tirai kelim, ia menumpahkan seluruh isi map cokelat ke atas lantai semen yang dingin.

Suara kertas bertumpuk-tumpuk: kuitansi beras bertanggal 1996, lembar telegram yang sudutnya terlipat mati, dan dua potong surat edaran RT bertuliskan tinta stensil biru.

Kasapi berlutut. Dengkulnya berbunyi pelan saat menekan lantai.

Ia mengambil buku garis dua yang masih bersih. Di bawah pendar lampu minyak tembus cahaya dari lubang angin, pensil 2B-nya menekan kertas hingga meninggalkan bekas lekukan dalam.

Ia tidak lagi menyusun kertas-kertas itu berdasarkan tanggal. Jarinya bergerak menyisir baris demi baris tulisan tangan yang pudar. Setiap kali matanya menemukan kata 'Arjapura', pensilnya menggores lingkar tebal. Saat nama 'Salmah' muncul di bawah nota pembelian kain tiga meter, ia menarik garis lurus, memotong margin halaman buku hingga menembus angka tahun di sebelahnya.

Dua jam meluncur tanpa derak jam dinding. Pensilnya patah dua kali, dan setiap kali ia meruncingkannya dengan pisau saku, tumpukan serbuk kayu bercampur dengan abu rokok tua yang tertinggal di celah meja.

Lihat selengkapnya