SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #14

Bab 13 — Meraba Kiblat

"Mata menimbang burung di dahan atau langit, sebelum sisa sarang gugur menuntunnya ke ujung sungai—sekadar disambut biru di kulit."


Cahaya pagi merembes melalui celah papan jendela yang tidak pernah benar-benar mengatup rapat. Sinar tipisnya menyapu debu gergaji di atas meja belajar, membelah tumpukan buku pelajaran yang terbiar terbuka, sebatang bolpoin tanpa tutup yang mengering, serta cangkir gading yang membeku di sudut melamin.

Dari arah dapur, bunyi air mendidih meletup pelan di bawah tutup teko seng. Suara sendok beradu dengan lingkar gelas kaca menimbulkan dentang tipis yang langsung diserap oleh keheningan dinding bambu.

Kasapi duduk di tepi ranjang. Jemarinya masih membungkuk, menahan dingin ubin semen di bawah telapak kakinya. Matanya menatap cangkir itu.

Mimpi semalam meninggalkan bau kuah minyak wijen dan kepulan uap yang menempel di balik kelopak matanya. Ada jemari kecil yang meremas lipatan kemejanya, diikuti gema tawa yang pecah lalu menguap sebelum sempat membentuk nama.

Ia bangkit. Tali terpal tas sekolahnya tersangkut pada selutut lengkung cangkir saat ia hendak menyampirkannya ke bahu.

Benda tanah liat itu tergelincir.

Refleks otot tangannya menangkap badan cangkir setengah senti sebelum menumbuk ubin. Dingin glasirnya menyengat telapak tangan yang hangat. Kasapi menahan napasnya beberapa saat, mengusap alur memutar di dasar cangkir—bekas roda pemutar yang membeku keras—sebelum meletakkannya kembali.

Posisinya bergeser tiga inci. Bibir cangkir kini menghadap lurus ke arah bantalnya.

"Kasapi."

Panggilan dari arah dapur itu pendek, berat oleh dahak pagi.

Kasapi melangkah keluar. Di balik meja kayu yang permukaan catnya mengelupas, Kakek sedang menuang teh hitam ke dalam gelas enamel berkerak. Uap melati naik pelan, menyapu kening tua yang dipenuhi guratan dalam.

Di atas piring seng, dua potong telur dadar dingin berdampingan dengan mangkuk tanah berisi sayur bening sisa semalam. Minyaknya mengapung kaku di permukaan air.

Kakek mengunyah tanpa mengangkat pandangan dari piringnya. Gerakan rahangnya yang lambat membuat otot lehernya yang menegang terlihat jelas di balik kaus kutang abu-abu.

"Pak Hendro masih simpan kertas?" tanya Kakek.

"Sepi, Kek," jawab Kasapi, memotong telur dengan pinggiran sendok. "Mesin besar cuma jalan dua jam kemarin."

Kakek mengangguk. Pisau raut di samping piringnya bergeser sedikit saat tangannya mengambil garam. "Orang pabrik di hilir mulai banyak yang dirumahkan. Tetangga sebelah bilang, minggu depan beras jatah dinaikkan harganya."

Kasapi tidak menyahut. Lidahnya mengecap asin garam yang tidak merata di guratan telur dadar.

Sebelum pintu pagar dibuka, Kakek meraih kerah kemeja Kasapi. Tangan yang kasar dan berbau minyak kayu putih itu menarik kain yang terlipat di dekat tengkuknya, meratakannya memakai dua ketukan ibu jari yang berat.

"Kancing atasnya hilang satu," kata Kakek pelan. Beliau berbalik membelakangi sinar matahari pagi, berjalan kembali ke teras tanpa menunggu jawaban.

Pintu kaca Percetakan Manara berdenting pendek saat Kasapi mendorongnya. Aroma tinta stensil bercampur minyak mesin yang biasa menyengat, pagi ini kalah tebal oleh bau apek dari kertas lembaran tua yang menumpuk di sudut ruangan.

Mesin cetak dua rol di tengah ruangan berdiri dingin. Pak Hendro sedang membungkuk di samping roda pemutar, jemarinya yang legam oleh tinta memegang kunci pas yang aus.

"Pagi, Pak."

Pak Hendro hanya mengangguk pendek. Bahunya tampak sedikit lebih turun dibanding kemarin, dan lingkaran hitam di bawah matanya menyerupai serbuk karbon yang diusap kasar.

Telepon di meja kasir berdering nyaring. Dengung kipas angin gantung menyerap bunyinya secara sporadis. Pak Hendro menjepit gagang telepon di antara bahu dan telinganya sambil terus mengencangkan baut mesin.

"Iya, Pak... opsi seribu lembar?" Pak Hendro menghentikan putaran kunci pasnya. Tangannya yang dipenuhi minyak mengusap kening. "Dikurangi jadi tiga ratus? Baik. Harganya ikut harga eceran, Pak... tidak bisa pakai hitungan rim."

Gagang telepon diletakkan kembali dengan ketukan kayu yang pelan. Pak Hendro mematikan mesin potong di dekat dinding.

"Pi."

"Iya, Pak?"

"Kertas HVS tujuh puluh gram tinggal berapa?"

Kasapi menggeser pintu kayu rak bawah. "Dua rim setengah, Pak."

Pak Hendro berdiri diam di depan rak selama beberapa menit. Tangannya terangkat, mengetuk-ngetukkan ujung kunci pas pada bingkai kayu rak, sebelum akhirnya berbalik menuju meja kasir tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Menjelang pukul sebelas, seorang lelaki tua bermata rabun masuk membawa map plastik yang kusam. Kemejanya berbau kapur barus tua dan keringat dingin.

"Tolong ini dipindah ke kertas baru, Nak. Dua lembar saja," katanya sambil menyerahkan lembaran kuitansi yang sudutnya sudah rapuh.

Lihat selengkapnya