SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #15

Bab 14 — Ufuk Datar

"Benih bersembunyi di balik tanah yang mengotori jemari, tumbuh dari peluh yang basah saban hari—sebelum merekah jadi peneduh yang ditatap dan dipeluk banyak mata."


Cahaya keemasan menerobos celah-celah papan kayu, memotong debu halus yang melayang lambat di udara kamar. Di luar, gesekan lidi sapu halaman terdengar teratur, berselingan dengan kokok ayam yang ditarik panjang dari balik semak beluntas. Sejuk embun masih mengendap di permukaan lantai ubin yang dipoles abu-abu.

Kasapi menatap langit-langit yang disangga balok kayu nangka.

Rasa asing yang biasanya membentang setiap kali matanya terbuka di tempat ini telah luruh. Bau minyak tanah tua, kopi yang diseduh tebal, dan kelembapan tanah selepas hujan semalam merayap masuk ke dalam pori-pori kulitnya sebagai sesuatu yang biasa.

"Tehmu hampir dingin."

Panggilan dari dapur itu pendek.

Kasapi beranjak. Ujung kakinya mengecap dingin ubin semen sewaktu menyusuri lorong pendek menuju meja makan. Di atas taplak plastik bercorak kotak-kotak, mangkuk seng berisi tempe goreng masih melepaskan uap tipis. Lengkuas iris yang terikut tergoreng garing menimbulkan aroma gurih yang menempel di udara.

Ibu sedang membelakangi meja, mengusap pinggiran kuali dengan kain lap kusam. Kain sarungnya yang terikat longgar di pinggang bergeser setiap kali badannya membungkuk.

"Ayahmu ada di samping," kata Ibu tanpa menoleh. "Pagar bambu di depan rebah dihantam angin semalam."

Kasapi duduk di bangku kayu yang sudutnya telah melengkung tergerus gesekan bertahun-tahun. Tangannya terulur menjangkau cangkir tanah liat di dekat wadah garam. Suhu keramiknya meresap cepat ke telapak tangannya. Saat cairan cokelat keemasan itu membasahi lidahnya, sepet teh yang berpadu manis gula tebu meninggalkan kesemutan halus di pangkal tenggorokan.

Ia tidak mencari perbandingan lagi.

"Ibu bilang apa," suara kakaknya memotong ketenangan ruang makan saat ia muncul sambil mengancingkan lengan kemeja. "Kalau melamun saat makan, nasinya keras."

Kasapi menarik sudut bibirnya pendek. "Cuma lihat uap teh."

Adiknya yang duduk di sudut bangku menumpahkan sebutir tempe goreng ke piringnya sendiri, lalu mendengkus kecil. "Kencang sekali matanya melotot ke cangkir."

Tawa kecil memantul tipis di antara dinding kayu. Ibu meletakkan wadah sambal terasi di tengah meja dengan ketukan gerabah yang pas.

"Kasapi," suara Ayah memanggil dari halaman samping. "Bawa pasaknya."

Kasapi berdiri. Sandal jepitnya menepuk tumitnya saat ia melangkah melintasi ambang pintu.

Matahari memanjat beberapa jari di atas pucuk kelapa. Aroma getah pisang dan tanah basah menguar pekat sewaktu Kasapi membungkuk mengambil tali rami dari atas papan bekas. Serat kasar tali itu menggigit kapalan di jemarinya, meninggalkan debu cokelat yang terselip di balik kuku.

Ayah menekan pangkal bambu ke dalam lubang tanah yang masih berlumpur. Keringat mengalir dari pelipisnya yang mengkilap, melintasi guratan dalam di pipi hingga menetes ke kerah kaus bergaris-garis yang warnanya telah pudar oleh cucian.

"Tarik lurus ke tiang kedua," kata Ayah. Suaranya serak, khas tenggorokan orang yang jarang minum sebelum siang.

Kasapi menegangkan tali rami itu. Seratnya menyayat kulit telapak tangannya secara halus. "Begini?"

Ayah memiringkan kepala. Ibu jarinya yang dipenuhi noda tanah hitam memegangi pangkal tiang. "Turunkan setengah senti."

Kasapi menurunkan genggamannya. Ayah mengangguk pelan, lalu memukul pasak bambu menggunakan punggung kapak. Brak. Brak. Dentuman kayu beradu kayu itu menyebarkan getaran pendek hingga ke tanah yang diinjaki Kasapi.

"Mata tanganmu persis nenekmu," gumam Ayah sambil mengusap lengan dengan kausnya. "Selalu tahu mana yang miring."

Kasapi terdiam. Ia memperhatikan ibu jari Ayah yang agak membesar di bagian sendi—sebuah bentuk fisik yang tidak pernah ia dapati pada cangkang tangannya sendiri.

"Makan pepayanya dulu!" seru Ibu dari ambang pintu dapur, memegang piring enamel bercorak bunga ros hijau.

Di bawah naungan teras, mereka duduk berderet. Adiknya merampas potongan pepaya terbesar, membuat Kakak menyenggol bahunya hingga biji hitam pepaya berhamburan ke atas tanah.

Lihat selengkapnya