SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #16

Bab 15 — Aliran Bintang

"Air panas meruntuhkan keutuhan rasa; sehelai raga melepas warna dan aroma demi menghidupkan seduhan."



Langkah kaki itu memukul trotoar. Sol sepatu karet berdecit kasar setiap kali menghantam semen yang mulai hangat disengat matahari. Kasapi menenteng tas ranselnya pada satu bahu; jahitan talinya terlepas sedikit, membiarkan kainnya melonggar dan menepuk paha tiap kali kakinya terangkat. Kemeja putihnya tak terkancing sampai dada, menyisakan kerah yang terlipat gulung ke dalam. Dasi abu-abu menggantung pasrah di dalam genggamannya yang basah oleh keringat.

Di depan gerbang besi, besi tua itu berderit saat penjaga mulai menarik rantai. Kasapi menyusup lewat celah yang tersisa selebar badan. Paru-parunya menagih udara secara brutal saat ia memotong koridor, menaiki anak tangga dua-dua.

Langkahnya melambat tepat di ambang pintu kelas.

Ibu Irena berdiri di sana. Kapur putih menjepit jari tengah dan ibu jarinya, meninggalkan serbuk halus di lipatan kulitnya. Seluruh kepala di dalam ruangan itu berputar bersamaan.

"Jam berapa ini, Kasapi?"

Suara itu tidak melengking, hanya mengendap di udara kelas yang pengap.

Kasapi menunduk. Ibu jarinya meremas kain dasi di genggaman. "Lupa, Bu. Maaf."

"Duduk," kata Ibu Maya pendek, membelakangi kelas untuk menuliskan angka-angka sosiologi di papan. "Salin buku cetak dua puluh lima halaman."

Kasapi berjalan menyusuri barisan meja. Tabika menggeser tas kulitnya ke tepi tanpa memandang, memberinya ruang pada bangku kayu berderit di sebelahnya.

"Baju lo udah mirip kain lap dapur," bisik Tabika pelan, pandangannya tertuju lurus pada catatan di depannya.

"Diem lo," sahut Kasapi lambat.

Ia menarik pulpen dari tas, merobek sampul buku bergaris yang ujungnya melengkung. Namun gerakan jarinya terhenti di halaman pertama.

Di bawah garis tanggal minggu lalu, ada deretan tulisan tangannya sendiri. Lengkungan huruf-huruf itu miring, tumpang-tindih oleh coretan tinta hitam yang tebal dan liar—kalimat-kalimat pendek yang tidak menampung potongan ingatan apa pun di kepalanya.

Di mana rumah yang tidak punya pintu belakang?

Kasapi menekan ujung pulpen ke kertas. Tinta biru meleleh sedikit, membentuk lingkaran noda yang membesar. Di belakangnya, tawa Josua pecah menimpali seloroh Tabika tentang foto yang dikirim ke grup sekolah. Suara mereka masuk ke telinganya seperti deru air dari balik kaca tebal.

Ia mulai menggerakkan tangan, menyalin baris demi baris dari buku cetak yang kertasnya berbau kusam. Namun huruf-huruf itu tidak mengendap di kepalanya; mereka meluncur begitu saja dari mata menuju jemari, lalu hilang.

Bel istirahat mengetuk besi tiga kali. Bangku-bangku terdorong ke belakang dengan derit nyaring.

Nakta mampir di ujung meja Kasapi sambil memutar-mutar spidol di selang-seling jarinya. Josua dan Razan menyusul dari belakang, melempar bola plastik yang memantul di sudut dinding.

"Gokil, keajaiban langka," Nakta bertepuk tangan sekali. "Seorang Kasapi bisa telat juga."

Kasapi meletakkan pulpennya di atas kertas. "Ada urusan."

"Minggu besok ngerjain tugas kelompok di rumah gue, kan?" tanya Nakta.

"Tugas yang mana?"

Nakta menghentikan putaran spidolnya. Dahi laki-laki itu berkerut tipis. "Tugas sosiologi dari Pak Aseka. Kemarin kan lo masuk..." Ia menggantung kalimatnya, menatap Kasapi lekat-lekat. "Eh, lo kemarin enggak masuk, ya? Katanya ada acara keluarga?"

Kasapi memandangi serat kayu di atas meja. Di dalam dadanya ada ingatan pendek yang sangat jelas: ia duduk di kantin ini kemarin siang, meminum es teh yang bungkusan plastiknya meneteskan embun dingin di pangkal paha.

Namun di buku catatan Nakta, namanya terpasang silang merah.

"Iya," sahut Kasapi lambat. "Ada acara."

"Beres nugas, kita ke pasar malam dekat rumah Nakta, yuk," sela Razan sambil menangkap bola plastiknya. "Lo ikut kan, Bika?"

"Gue usahain," jawab Tabika dari samping, sibuk memasukkan penggaris besi ke dalam tasnya.

Kasapi menoleh perlahan. Ada lipatan licin di kepalanya yang mendadak tidak bisa tersentuh. Ia menatap wajah Tabika, lalu berpindah ke arah tas ransel di sebelahnya.

"Sapa... nama adik lo yang suka ikut ke lapangan?" tanya Kasapi.

Lihat selengkapnya