SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #17

Bab 16 — Punggung Fajar

"Ia melangkah seirama angin, membubung tinggi memeluk langit, lalu lebur tanpa jejak—hanya menyisakan secuil aroma yang perlahan mati di udara."



Sandal karet tipis itu melekat di atas semen pasar yang basah, menghasilkan bunyi lekit setiap kali tumit melangkah. Udara pekat oleh amis ikan mati dan lengketnya sisa sisik yang membusuk di selokan terbuka. Seorang anak laki-laki berdiri mematung di antara tumpukan sawi hijau yang melemas disiram air. Matanya yang bulat bergerak patah-patah, menyusuri deretan betis orang dewasa yang melintas tanpa wajah.

"Kasapi!"

Guncangan melingkar menghantam dadanya sebelum tubuhnya sempat goyah. Hangat keringat dan aroma bedak menimbun hidungnya saat dekapan itu mengencang di tengkuk.

"Kemana aja kamu, nak..."

Usapan jari-jari yang kasar oleh parutan kelapa terasa tebal di kulit kepalanya. Lalu, sepasang lengan lain yang lebih kekar menyusup di bawah ketiaknya. Udara mendadak terangkat; riuh tawar-menawar harga cabai dan semprit juru parkir menyusut menjadi dengung tipis di bawah telapak kaki yang menggantung.

"Lain kali bilang sama Atra dulu, Bia," bisik remaja di sampingnya. Bahunya kokoh, bertumpu pada napas yang teratur. "Ayo, beli cokelat jago kesukaan Bia."

Di bawah, seorang anak laki-laki berkaus hijau kebesaran berdiri memangku papan kayu berbingkai tali biru. Matanya redup, menyipit dihantam terik pasar.

"Jual cokelat jago, Dik?" tanya Atra, menurunkan Kasapi kecil perlahan hingga tumitnya kembali menghantam semen lembap.

Anak berkaus hijau itu mengangguk, jarinya yang kurus menyusup ke bawah plastik ramah lingkungan. "Satu kotak, Kak?"

"Berapa umur kamu?" Ibu menimpali, jemarinya meraba lipatan dompet kain.

"Sepuluh, Bu."

Kasapi tidak mendengarkan. Matanya terkunci pada truk plastik oranye di lapak sebelah—roda hitamnya besar, memantulkan kilat matahari di atas cat yang belum gores. "Bia mau truk..." pelafalannya samar, tertutup deru kendaraan yang baru melintas.

Saktra menyerahkan selembar uang lecek kepada penjual cokelat, sementara Ibu mengelus puncak kepala anak panti itu tanpa sepatah kata pun. Ketika truk oranye itu akhirnya berpindah ke dalam dekapan Kasapi kecil, ukurannya hampir menutupi dagu hingga matanya. Ia melompat turun dari undakan semen, berlari membawa mainannya menembus kerumunan.

Di tempat lain, di dalam ruangan yang hanya diterangi pendar fajar yang belum matang, seekor lalat hinggap di tepi piring seng.

Suara ketukan kayu memukul pintu tiga kali.

"Kasapi, bangun."

Keheningan menyerap panggilan itu tanpa sisa. Uap nasi matang membubung dari bawah tutup panci di dapur, beradu dengan aroma teh tubruk yang mengendap di ruang tengah. Kakek mendorong pintu kamar yang tak terkunci.

Di atas ranjang, Kasapi terbaring miring. Selimut lurik masih terlipat rapi di atas meja belajar, membatasi lembar buku bergaris yang baru terisi seperempat. Pulpen biru tergeletak di tepi kayu, hampir jatuh. Di sebelahnya, sebuah cangkir gading menyisa genangan air bening yang menetes pelan ke celah lantai ubin.

Kakek melangkah lambat. Jarinya yang gemetar menarik selimut lurik itu, menutupi hingga batas dada cucunya, lalu mengusap helai rambut yang menempel di dahi dingin anak itu.

"Mungkin kamu lelah," bisik lelaki tua itu pada dinding kayu.

Ia kembali ke dapur. Tutup panci seng diangkat sebentar, membiarkan uap panas meluap sebelum api kompor ditiup padam. Dua piring kayu ditata berdampingan. Nasi hangat dan sayur bening dituangkan sama rata.

Kakek duduk di tepi kursi kayu, memandangi piring yang berseberangan dengannya. Teh di dalam cangkirnya memunculkan riak tipis saat jendela depan dibuka. Angin pagi masuk, membawa gesekan sapu lidi tetangga dan derit sepeda ontel melintasi tanah basah.

Ia mengambil gembor kaleng di dekat pintu, berjalan menuju teras. Air mengucur pelan, membasahi tanah pot mawar cabuk yang daunnya mulai menguning. Pada satu pot tanah liat paling kecil di sudut teras—pot yang biasanya disiram paling awal oleh Kasapi—Kakek menahan kucuran gembornya lebih lama hingga air meluap di tepi terakota.

Langkah kakinya kembali ke dalam saat jam dinding berdetik melewati angka tujuh. Jam sekolah sudah lewat. Kakek meraih topi kainnya yang tergantung di paku dinding, mematikan katup gas, lalu merapatkan pintu depan.

Dua piring nasi di atas meja tetap membiarkan uapnya menghilang perlahan.

Udara dingin yang mengendap di atas piring-piring itu meleleh sewaktu kesadaran Kasapi ditarik menembus batas lain. Bayangan kamar temaram mendadak terkelupas, digantikan silau terik matahari sore yang membakar kaca jendela.

Mesin mobil bebek hijau tua itu menderu kasar. Aroma pengharum melati buatan beradu pekat dengan bau kulit sintetis jok yang memanas di bawah pangkuannya.

Mesin mobil bebek hijau tua itu menderu kasar saat pintu belakang ditutup dengan bunyi klik yang tumpul. Aroma pengharum melati buatan beradu pekat dengan bau kulit sintetis jok yang memanas.

Atra menepuk bagian tengah kursi. "Sini, Bia."

Kasapi memanjat perlahan, memeluk truk oranye yang roda plastiknya meninggalkan jejak tanah di celana pendeknya. Kakinya menggantung jauh dari lantai mobil, mengayun tak beraturan mengikuti kejutan suspensi tua saat kendaraan itu melaju.

Di balik kaca yang diturunkan dua jari, aroma ikan asin menyusut, digantikan bau debu jalanan.

Lihat selengkapnya