"Betapa tragisnya sebuah gerigi besi yang harus menemui lekuk paling tepat demi membuka sebuah bilik"
Satu helai debu berputar lambat di dalam jalur cahaya yang membelah kegelapan kamar, sebelum runtuh menghantam permukaan kain selimut.
Kasapi membuka mata. Dinding papan di hadapannya tak langsung memunculkan serat kayunya; butuh beberapa kali kejapan hingga pola urat jati yang melingkar itu berhenti bergerak-gerak seperti pusaran air. Di luar, keheningan ditarik kencang oleh suara kokok ayam jantan yang tumpul di balik deretan kandang tetangga.
Kasapi mencoba menegakkan punggungnya, tetapi sendi-sendi di pangkal paha dan pinggulnya terkunci kaku—seperti engsel besi tua yang mendadak dipaksa berputar.
Sensasi berputar yang tajam langsung menghantam bagian belakang matanya. Ia terbatuk kering. Tenggorokannya begitu kasat, melekat seperti dua lembar kertas amplas yang digesekkan. Bibir atas dan bawahnya merekah pecah, menyisakan perih dan asin darah kering saat lidahnya yang tebal mencoba membasahi celah bibirnya.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri.
Kulit di buku-buku jarinya tampak keriput dan pucat pasi, kehilangan rona hangat darah yang biasa. Piyama dril yang melekat di badannya berbau asam keringat dingin yang mengendap lama—aroma tubuh seseorang yang telah berbaring terlalu lama tanpa menyentuh air.
Ketika telapak kakinya yang dingin akhirnya menyentuh ubin semen, lututnya bergetar hebat. Gravitasi bumi mendadak terasa tiga kali lebih berat, seolah-olah raganya baru saja ditarik kembali secara paksa dari kedalaman air yang sangat jauh.
Pahatan cekung di pipinya yang kian tirus saat ia menatap cermin retak di samping jendela, serta bercak ludah mengering yang telah memudar di atas bantal, sudah cukup memberi tahu raganya: ada rentang waktu yang cukup panjang yang telah melompati hidupnya tanpa pernah ia saksikan.
Dekapan kain lurik di atas pangkuannya masih menyimpan hangat yang ganjil. Jemari Kasapi meraba tekstur benang yang kasar itu, mencari sisa tekanan ibu jari yang seolah baru beberapa detik lalu mengusap puncak kepalanya.
"Ibu..."
Kata itu mengendap di udara kamar tanpa bergema. Kasapi tidak menggerakkan bibir untuk kedua kalinya. Ia menunduk, menekan pelipis dengan pangkal telapak tangan hingga bola matanya menangkap pijar-pijar merah di balik kelopak yang terpejam.
Ingatan tentang usapan tangan tebal beraroma parutan kelapa dan gesekan jari-jari retak Kakek bertabrakan di satu titik saraf yang sama, membeku menjadi gumpalan rasa yang tak memiliki nama.
Di atas meja kayu, cangkir gading itu tidak lagi mengepulkan uap, tetapi cairan di dalamnya menyisa batas melingkar bergaris cokelat di dinding keramik.
Kasapi meraih gagangnya.
Dingin terakota meresap cepat ke ruas jari-jarinya. Saat air itu menyentuh lidahnya, rasa manis gula jawa yang kesat membakar pangkal tenggorokannya—rasa manis yang terpisah tajam dari cairan bening yang semalam menetes dari bibirnya di dalam mimpi.
Ia membeku di tepi meja. Lidahnya mengecap sisa rasa itu berulang kali, mencoba mengukur jarak antara gula dapur rumahnya dan rasa manis yang samar-samar ia ingat dari cokelat bermerek burung jago di dalam kantong plastik basah.
Pandangannya bergeser ke ambang jendela.
Di luar, pot terakota paling kecil di sudut teras mengkilap oleh sisa air yang meluap. Tunas mawar cabuk yang sebelumnya hanya berupa benjolan hijau sebesar kepalanya kini telah membentangkan dua helai daun muda yang tebal, berkilat dihantam terik pagi yang baru naik tiga jari.
Jemari Kasapi meraba penanggalan kertas di samping cermin retak.
Kertas tipis bergambar jamu tradisional itu masih menyisakan bekas goresan pensilnya pada angka dua belas. Di bawahnya, empat kotak polos terlewati begitu saja tanpa garis silang.
Ia ditarik mundur oleh keheningan ruang belajar. Buku bergaris yang terbuka di hadapannya masih memanggul pulpen biru di batas marjin. Tinta cair yang mengendap di mata pena telah meresap menembus tiga lembar kertas di bawahnya, membentuk noda bundar berwarna kehitaman yang kaku.
"Barangkali rumah hanya sekumpulan ubin dingin yang menunggu jatuhnya bayangan"
Kasapi meraih batang plastik pulpen itu. Benda cair di dalam tabungnya bergetar kecil saat tangannya tergantung dua sentimeter di atas kertas. Tinta itu menolak menetes. Di kepala Kasapi, deru mesin mobil bebek hijau tua, bau amis selokan pasar, dan ayunan kaki di atas suspensi tua bertumpuk merobek kalimat yang baru setengah jadi itu.
Ia meletakkan pulpen itu kembali. Kayunya berbunyi klak pendek.
Aroma kangkung yang menghantam minyak panas beradu dengan desis kecap menyapu lorong tengah sebelum Kasapi sempat menyentuh daun pintu dapur.
Lelaki tua di depan kompor itu tidak menoleh saat spul kayu di genggamannya menekan dasar wajan. Gulungan kemeja dril abu-abunya menyingkap sepasang lengan yang dipenuhi bintik-bintik pigmen tua—kulit yang membungkus urat-urat membiru seperti serabut akar yang mengering.
"...Bu."
Desis minyak di atas wajan membakar bisikan itu hingga tak bersisa.
Kakek mematikan katup gas dengan putaran engsel besi yang keras. Keriput di pipinya terangkat ketika ia berbalik membungkuk, meraih dua piring tanah liat dari rak bambu.
"Nasinya masih hangat."
Kasapi menarik bangku kayu. Bunyi gesekan kaki kursi dengan ubin semen yang aus terdengar ngilu.
Di atas meja, hanya ada dua piring tanah liat dan semangkuk sayur bening yang membiarkan uapnya menipis dihantam angin dari pintu belakang yang terbuka sedikit. Kasapi menatap piring kosong di seberang tangannya. Ibu jarinya bergeser dua milimeter di atas permukaan kayu meja, secara refleks hendak menggeser wadah nasi untuk memberi ruang bagi papan kayu bersampul tali biru yang biasa dipangku seorang anak kecil—sebelum seluruh sendinya terkunci kaku.
Ia menarik tangannya kembali ke dalam pangkuan.
"Makannya pelan-pelan. Masih panas."