"Sebuah kesanggupan untuk tetap merawat remah-remah abu-abu lalu mengulurkan tangan hingga semuanya luruh "
Gang sempit itu berbau jelutung dan jemuran basah yang terlambat diangkat. Cahaya sore jatuh memanjang, menempel seperti kerak minyak di atap-atap seng. Di ujung lorong, bola plastik ditendang mengenai seng pagar; bunyinya nyaring, disusul derap kaki ganjil anak-anak yang buru-buru melintas tanpa pernah benar-benar menoleh.
Kasapi berjalan dengan telapak kaki menyeret.
Di balik pagar kayu rumahnya, cat hijau yang terkelupas menyimpan serbuk kayu rapuh. Engsel tua berdencit satu kali—pendek, tumpul, seperti lidah kaku yang enggan menyapa.
Di teras, sepasang sandal karet kakeknya mendatar di dekat ambang. Di sisinya, galon air terbungkus plastik bening masih tergeletak miring. Kakek berjongkok di sampingnya. Kedua telapak tangannya yang kebas merangkul leher plastik itu, mencoba menggesernya semeter ke arah pintu.
Galon itu hanya bergemuruh pelan di atas semen, berhenti sebelum melewati garis bayangan atap.
Kakek melepas pegangannya. Bahunya turun naik. Ujung lengan bajunya yang menguning menyapu pelipis, menyisakan garis abu-abu di kulitnya yang berkerut.
"Kek."
Orang tua itu mendongak. Kelopak matanya yang menebal membuat pandangannya butuh beberapa detik untuk fokus.
"Oh."
Kasapi berlutut. Plastik berkeresek kencang saat jemarinya memeluk pundak galon. Dinginnya air di dalam dinding plastik menyengat telapak tangannya yang kering. Saat ia memeluk galon itu naik ke dada, air di dalamnya berguncang kasar—suara kocakan yang pecah dan mengendap kembali.
Ia membawanya masuk. Dapur berbau tengik ketumbar dan kayu lembap.
Gluk... gluk...
Gelembung udara naik menyundul dasar galon di atas dispenser. Kasapi memutar keran. Air menetes dua kali sebelum mati.
Di ambang pintu, Kakek masih berdiri. Tangannya menggantung kaku di samping paha, seolah bentuk genggamannya pada leher galon tadi belum sepenuhnya terurai dari jemarinya.
"Dulu..." Kakek mengusap kumisnya yang kasar. "...sekali angkat."
Kasapi menatap buku-buku jari tua itu. Kulitnya setipis kertas minyak, membungkus urat-urat biru yang menjalar bengkok seperti akar liar di bawah ubin. Ia mengulurkan tangan, menyentuh pergelangan Kakek.
Hangat. Namun getaran tipis di bawah kulit tua itu terasa seperti ranting lapuk yang diguncang angin dalam.
Kakek tidak menarik tangannya. Ia hanya terkekeh pelan—suara dahak yang tertahan di tenggorokan. "Kenapa?"
Kasapi melepaskan sentuhannya. Tampak bekas putih dari ibu jarinya memudar lambat di kulit Kakek, tertutup kembali oleh rona darah yang enggan mengalir cepat.
Uap sayur bayam mengepul tipis di atas meja kayu. Kakek menggeser panci menggunakan kain lap lusuh yang berbau beras kencur.
Kasapi mengambil piring dari rak. Kuali, sendok, piring—semuanya bergerak di bawah jemarinya tanpa perlu dilirik.
Satu piring.
Satu gelas.
Satu piring lagi.
Satu gelas lagi.
Lalu jemarinya bergerak sendiri ke rak atas. Piring ketiga berbahan seng berenamel kusam terambil. Ia menggeletakkannya di sisi meja dekat jendela—tempat cahaya sore paling akhir menghilang. Ia menuangkan air dari teko seng hingga tepinya nyaris meluap.