SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #20

Bab 19 — Sisi Seberang

"Ganjil, seisi pulau menggantungkan selamat pada menara yang dipukuli ombak; pasrah merawat cahaya, lalu dilupakan saat daratan ditemukan."


Sebuah bayangan tidak pernah benar-benar jatuh tegak lurus di atas ubin; selalu ada bagian ujungnya yang meleleh, menipis, lalu memudar di celah semen yang berdebu.

Kakek tidak pernah menanyakan cangkir itu.

Pagi baru saja menetes dari sela genteng ketika lelaki tua itu berjongkok di samping rak piring. Kerutan di tengkuknya membentang kaku, menyerupai pola retakan pada tanah liat yang terlambat disiram. Jemarinya yang bengkok meraih kaleng biskuit karatan di bawah kompor, mencolek sejumput jelaga hitam, lalu mengusapkannya ke bagian luar dasar panci aluminium yang bocor halus.

Tangan itu bergerak memutar. Berulang. Lurus. Memutar lagi.

Kasapi memperhatikan irama genggaman itu dari ambang pintu dapur. Di lehernya, seragam putih-abu-abu masih berbau setrikaan hangat bercampur asap kayu bakar.

"Kek."

Gesekan jemari berjelaga itu berhenti. Kakek tidak berpaling. Hanya punggungnya yang naik setengah inci, membawa keheningan yang tersangkut di antara napasnya yang pendek.

"Sendoknya lengket," kata Kakek. Suaranya berasap, tumpul oleh dahak pagi. "Air rebusan beras yang kemarin lupa kamu buang."

Kasapi melangkah mendekat. Ujung sepatunya menyenggol ember Seng yang separuh terisi air bilasan. Di dalamnya, sekuntum minyak bekas gorengan mengapung, membiaskan cahaya remang menjadi pelangi yang patah-patah.

"Biar Kasapi yang cuci."

Kakek tidak melepaskan panci itu. Ujung jarinya yang tertutup jelaga kini menekan bibir aluminium yang tajam. Sesaat, ada getaran halus menembus kulitnya—saraf tua yang mendadak terkunci oleh kram. Sendi jarinya memutih, kaku seperti paku yang tertancap pada papan lapuk.

Kasapi memegang pergelangan tangan Kakek.

Kulit tua itu dingin. Seperti memegang pembungkus es cair dari pasar. Urat-urat birunya menyembul, keras dan tidak membal.

"Kek."

Lelaki tua itu membiarkan tangannya ditarik pelan. Namun matanya tidak menatap Kasapi. Pandangannya tersangkut pada sudut meja makan yang kosong—titik di mana lingkaran debu semalam berada. Tempat cangkir itu pernah diam.

"Nenekmu," gumam Kakek, bibirnya yang kering menyatu pada huruf m, "kalau bikin teh, selalu pakai air mendidih pertama. Yang ada letupan kecilnya dari dasar cerat. Kalau sudah mendidih besar, rasanya hambar. Kayak minum air mentah."

Kasapi menahan napas. Tangannya yang memegang pergelangan Kakek perlahan mengendur.

"Nenek sudah nggak ada, Kek."

Kakek menarik tangannya kembali. Jelaga di jarinya meninggalkan serbuk hitam tipis di kain seragam Kasapi. Lelaki tua itu berdiri, lututnya berderak pendek seperti kayu kering yang dipatahkan di bawah telapak kaki.

"Ibumu yang bilang begitu?" tanyanya sambil melangkah menuju pintu belakang. "Atau kamu yang lupa?"

Pintu dapur mengayun terbuka. Udara dingin menyusup masuk, membawa bau basah daun pisang yang membusuk di selokan. Kakek melangkah ke halaman, meninggalkan sepasang sandal karetnya yang menghadap ke dalam.

Jalan menuju jalan raya belum sepenuhnya benderang ketika Kasapi melintasi pos ronda.

Nakta sudah duduk di atas gilasan semen tempat cuci motor, kakinya yang panjang mengayun-ayun menghantam dinding bata. Di pangkuannya, sebuah kardus bekas mi instan terikat tali rafia biru. Dari dalam kardus itu, bunyi kaleng-kaleng cat semprot beradu pelan.

Klek... klok...

"Lo bawa apa?" tanya Kasapi, menghentikan langkahnya beberapa meter di tepi selokan.

Nakta tidak menjawab. Ia mengocok salah satu kaleng cat. Bau tiner yang tajam mendadak menusuk hidung Kasapi, bercampur dengan uap embun dari pohon sengon di atas mereka.

"Bapak gue," kata Nakta, matanya terpaku pada buas warna merah yang menyemprot sedikit di jempol tangannya. "Semalam pulang."

Razan keluar dari gang di belakang pos ronda, tas sekolahnya tergantung di satu bahu. Bibirnya memegang sebatang kerupuk kaleng yang sudah membebal.

"Bapak lo bawa mobil lagi?" tanya Razan tanpa melepas kerupuknya.

"Lagi." Nakta meletakkan kaleng cat itu kembali ke kardus. Gerakannya kasar, hingga sudut kardus itu robek. "Tadi pagi udah jalan lagi ke Padang. Cuma naruh dompet bekas sama sepatu boot yang ukurannya kekecilan buat gue."

Ia berdiri, menyambar tali rafia kardusnya.

Kasapi memperhatikan punggung Nakta yang agak membongkok saat berjalan. Ada lipatan kain yang salah di bagian belakang kemeja seragamnya, seolah-olah baju itu dikenakan dalam gelap tanpa sempat disetrika.

"Nakta," panggil Kasapi.

Nakta menoleh separuh wajah. "Apa?"

"Gantungan lo."

Nakta meraba resleting tasnya. Burung pipit kayu itu masih ada di sana, tetapi salah satu matanya—titik hitam kecil dari cat minyak—sudah terkelupas, menyisa ceruk kayu polos yang pucat.

"Kecebur selokan kemarin," kata Nakta pelan. Ia berpaling lagi, melanjutkan langkahnya menuju perhentian angkot. "Catnya murahan."

Razan mengunyah kerupuknya yang tersisa separuh. Bunyi kunyahannya tumpul. "Ayo, Pi. Nanti Pak Hartono ngunci gerbang lagi."

Lihat selengkapnya