"Di dasar gelap, jangkar memeluk badai sendirian agar kapal di atasnya bisa merayakan pesta."
Akar pohon itu menerobos semen jalanan seperti otot yang membeku, membelah selokan tua menjadi dua riak keruh yang menyeret sampah plastik. Di bawah naungannya, panas siang seketika pudar—meninggalkan hawa dingin lembap yang merayap ke pori-pori kulit.
Nakta melempar kardus mi instan yang terlipat pipih ke celah akar. Sekali ayunan pinggul, tubuhnya sudah bertengger di dahan terbawah, membiarkan sepasang sepatu kainnya yang solnya hampir terkelupas bergoyang di udara.
"Kan," kata Nakta, menepuk kulit kayu yang bersisik tebal di dekat lututnya. Udara dingin berembus tipis dari selipan daun, menyapu lehernya yang berkeringat.
Razan berjongkok di atas benjolan akar, menatap ke atas. Kerupuk kaleng di dalam mulutnya pecah dengan remukan kering yang nyaring. "Masih mending dibanding kamar lu."
Di dekat jembatan kayu, tempat aliran air nyaris berhenti, Josua meletakkan kamera analognya di atas papan semen yang mengering. Ia menyapu debu di bagian lensa menggunakan bagian dalam kelembu kausnya, lalu ikut menyandarkan bahu ke batang pohon.
"Filminya tinggal empat," kata Josua, jarinya meraba roda pemutar film yang berkarat pelan. Ia menatap selokan, tempat bayangan mereka bertiga memanjang dan saling tumpang-tindih.
Tabika berdiri mengelus permukaan kulit pohon mahoni yang kasar. Tangannya yang mungil menelusuri bekas garisan lama yang hampir tertutup kambium kayu.
"Kalau pohon ini dikutang atau ditebang buat mebel," bisik Tabika pelan, pandangannya beralih pada Kasapi yang berdiri paling dekat dengan tepi selokan, "orang-orang yang pernah neduh di bawahnya... ikut kehilangan tempat pulang enggak, Pi?"
Kasapi menatap dedaunan rapat di atas kepala mereka. Cahaya matahari sore menerobos di antara celah daun, jatuh sebagai titik-titik emas yang menari-nari di atas kulit seragam kusam mereka.
"Pohonnya enggak ilang, Bik," jawab Kasapi. "Cuma bayangannya yang pindah."
"Tuh kan, sok puitis lagi si Kasapi," potong Razan sambil melempar remah kerupuk ke arah sepatu Kasapi. Namun senyumnya lebar. "Yaudah, mumpung belum makin gelap, Josua! Jepret sekarang! Katanya mau foto berlima sebelum kelulusan!"
Josua menyetel timer kamera, berlari kecil menyeberangi selokan, lalu berdesakan merapat di bawah akar mahoni. Tabika tersenyum tipis, Nakta merangkul bahu Razan dari atas dahan, dan Kasapi berdiri di tengah-tengah kehangatan riuh itu.
Klik-jepret.
Cahaya kilat menyambar pendek. Untuk beberapa detik, wajah mereka berlima terpantul terang di antara pekatnya bayang-bayang pohon mahoni besar itu.
Jam lima sore lewat, Kasapi berpisah dari teman-temannya dan melangkah menuju Percetakan Manara.
Di dalam bangunan yang berbau tiner dan minyak tanah pekat itu, Mas Hagia sedang berjongkok di samping mesin cetak dry-offset. Lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan kulit tangannya yang ternoda oli bekas dan cetakan tinta hitam yang mengering.
Klek-cras.
Pak Hendro menarik tuas mesin guilotil dari sudut lain. Potongan kertas sisa berserakan seperti kelopak bunga mati di lantai semen.