SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #22

Bab — 21 Koordinat Tanah

"Ujung perekat tak pernah sungguh lenyap; ia menyerap masuk ke dalam kulit asalnya. Sebuah resapan yang acuh pada paksaan, hanya patuh pada ketelatenan yang mengendap."


Pagi masih menyisakan embun di ujung rumput ketika Kasapi menutup pagar rumahnya. Kayu tua itu melepaskan jerit kering yang asin. Dari balik selasar, dentang piring seng memotong sunyi—suara Kakek yang menyapu remah nasi kering dengan ujung jempolnya yang kapalan, sebelum memikul cangkul ke balik bukit.

Tas sekolah bergantung di bahu kanan Kasapi. Jemarinya menahan kepala resleting, merasakan gigitan besi dingin yang meninggalkan cetakan garis merah di kulit telunjuknya. Keberadaan dua buku bergaris kusam dan sebatang pensil puntung di dalam kain tas itu terasa seberat bongkahan timah.

Jalan desa belum padat. Dua sepeda ontel melintas, meninggalkan derit rantai aus yang bergetar di celah tulang telinga. Seorang anak SD berlari kecil dengan sudut bibir belepotan selai lengket, disusul perempuan setengah baya yang menyabet udara kosong menggunakan botol minum merah pudar—mengejar dengan napas yang putus-putus.

Kasapi menatap pecahan tanah kotor di tumit anak itu sampai ditelan semak.

Di teras warung Bu Sumi, uap termos aluminium meliuk kental, membawa sangit minyak gorengan dan pahit teh bubuk murah yang menghimpit lidah. Dua anak SMA berdiri membelakangi jalan; jari-jari mereka mengetuk kaca telepon genggam dengan ritme mekanis sembari menunggu kembalian.

"Pi."

Kasapi menoleh. Pemuda penjaga toko gerabah berdiri memegang sapu lidi. Pintu tokonya menganga separuh. Di atas semen teras, deretan belanga dan cangkir tanah liat yang baru dibuka dari karung berjejer rapi. Cahaya pagi menghantam liat basah itu, membiaskan warna merah bata yang lebam dan berbau rawa.

"Pagi, Kak."

"Kami aman?"

Kasapi diam. Jempolnya meraba benang jahitan tali tasnya yang terburai. "Aman kenapa?"

Pemuda itu mengayunkan sapu lidi sekali. Selembar daun nangka kering bergeser sedikit. Kulit tangannya penuh bukit-bukit pecah akibat bertahun-tahun meremas adonan tanah basah. "Muka kamu kusut sekali dari kemarin"

Kasapi mengulas senyum—garis tipis di bibir yang mati di bawah mata yang tak berkedip. "Saya baik ,Kak. Mungkin perasaan kakak saja"

Kekeh pendek meletup di tenggorokan pemuda itu, lalu pandangannya jatuh kembali ke tanah kotor. "Yo wis. Hati hati dijalan"

Kasapi tak menjawab. Langkah kakinya berlanjut. Lima meter di depan, ia melirik tipis lewat ekor mata. Pemuda itu kini berlutut, menggeser cangkir gerabah paling kecil ke dalam naungan bayangan atap. Jemarinya menyentuh tanah liat itu serapi memegang cangkang telur.

Gerbang sekolah makin membesar. Kerumunan seragam putih-abu-abu menyempit di celah besi berkarat. Bel pertama melengking tajam dari corong pengeras suara tua di atas kantor guru.

Satu langkah. Dua langkah. Langkah ketiga tertahan di udara.

Kasapi berhenti.

Di tengah halaman, Nakta melambaikan tangan dengan ayunan lebay, menembus kabut pagi yang malas. Di sampingnya, Tabika menautkan jemari di dua tali ransel, matanya menyipit dihantam silau seng garasi.

Dari koridor, Nakta berteriak, "Pi! Cepetan, Pak Joko udah nangkring tuh!"

Kasapi mengangkat telapak tangannya sejajar dada, suaranya keluar datar: "Iya!"

Teriakan itu lenyap disapu gesekan puluhan pasang sol sepatu di atas kerikil. Nakta berbalik, menyenggol bahu Tabika untuk masuk lebih dulu ke lorong kelas. Tabika sempat menoleh sekali lagi ke arah gerbang—alisnya menegang tipis sebelum gelombang siswa menelan sosoknya.

Gerbang kembali melengang. Seorang petugas kebersihan menggaruk lehernya yang gatal oleh debu sebelum mengayunkan sapu lidi, menyeret daun mahoni kering. Srrt... Srrt...

Bunyi itu beresonansi ganjil di gendang telinga Kasapi. Menyeret ingatannya kembali ke teras toko gerabah. Ke bau tanah basah. Ke cangkir kecil yang disembunyikan dari sengatan matahari.

Pikirannya bergeser. Bukan pada alur sungai, bukan pada bayangan pohon di belakang rumah Josua, melainkan pada meja kayu di kamarnya sendiri—pada porselen kusam yang retakannya menampung sisa air teh kemarin sore.

Tumit kanannya berputar di atas tanah kotor. Gerbang sekolah merosot ke belakang punggung. Ia berjalan balik arah.

Di pertigaan jalan, seorang ibu penjual kangkung menahan stang sepeda jengkinya. "Lho, Pi? Kok malah balik?"

"Libur, Bu," jawab Kasapi pelan.

Langkah kakinya terus terayun. Tak ada rasa lega, tak ada desakan bersalah. Hanya ada ruang hampa di rongga dadanya—seolah kebohongan tadi meluncur begitu saja seperti dahak yang dibuang ke tepi selokan.

Pagar rumahnya masih menganga. Dua lembar baju milik Kakek menggantung kaku di tali jemuran. Sandal karet hitam dekat pintu sudah hilang, menyisakan dua jejak tanah kering yang meluruh di sudut teras.

Sunyi di dalam rumah terasa terlalu tebal.

Kasapi mendorong pintu. Kayu itu mengerang. Di atas meja makan, cangkir seng bekas Kakek menyisakan lingkaran cokelat yang mengering di atas serat kayu.

Tik. Tik. Jam dinding menancapkan detaknya pada semen terkelupas.

Kasapi berjalan melintasi lorong menuju kamarnya. Sinar matahari menerobos ventilasi tinggi, memotong udara menjadi batang-batang debu yang melayang lambat.

Ia membuka pintu. Bantal kapuk yang kempes, jendela terganjal kayu, dan di sudut meja belajar... cangkir porselen tua itu berdiri dalam hening.

Kasapi mendekat, merengkuh lambung porselen itu dengan kedua tangan.

Air di dalamnya tenang. Permukaannya menangkap separuh rahangnya yang terbelah oleh jalur retakan pada bibir porselen.

Lihat selengkapnya