"Guguran pensil hanyalah kelupas tipis yang runtuh menjadi puing-puing di atas kertas."
Engsel besi berdecit.
Lengan baju yang digulung sembarang memperlihatkan urat-urat hijau menonjol di bawah kulit yang terbakar matahari. Serbuk gergaji menempel pada rambut-rambut halus di lengannya, berguguran setiap kali ia memindahkan gulungan tali rafia yang mengikat dua bilah kayu. Sekantung paku kecil berdenting halus di celah jari-jarinya.
Langkah itu terhenti sebelum telapak kakinya sempat menyentuh ubin teras. Yashera meluncur dari arah samping, kedua lengannya melingkar ketat di pinggang lelaki itu.
"Papa!"
Bungkusan kayu bergeser melintasi bahu, diturunkan dengan dorongan otot yang tertahan.
"Nanti pakunya jatuh."
"Beli apa?"
"Paku."
"Buat?"
"Buat kursi yang goyang."
Yashera menyengir, dahinya yang berpeluh menempel di kain kemeja ayahnya yang lembap.
Dada lelaki itu naik turun bergelombang. Ketika kepalanya terangkat, sepasang mata di bawah naungan alis tebal itu menemukan tempatnya.
Suhu udara di teras mendadak membeku dalam buaian angin sore.
Garis rahang itu belum kehilangan ketajaman sudutnya. Tidak ada lipatan daging terkulai di bawah dagu, tidak ada jalur kerutan kering yang membelah sudut matanya. Cetakan uban belum merayapi pelipisnya.
Terlalu dekat. Terlalu berwujud untuk sebuah bayangan yang biasa memudar saat dipaksa diingat.
"Rabia."
Napas ayahnya terhembus tenang, membawa aroma minyak kayu putih dan getah kayu yang terbakar.
"Kenapa diam saja?"
Otot tenggorokan Kasapi mengencang, menahan dorongan udara yang tersumbat di pangkal lidah.
Lelaki itu melangkah tiga tapak. Telapak tangannya—kasar, bersisik oleh bekas kapalan kerja kasar—mendarat di pucuk bahu Kasapi. Sentuhan yang memberi bobot gravitasi baru pada kakinya.
"Capek di sekolah?"
Kasapi mengangguk. Kepala merunduk beberapa derajat.
"Hm."
"Tasnya berat?"
Kepala itu mengangguk lagi.
Tali ransel ditarik perlahan melintasi lengannya. Gerakan yang meluncur begitu saja tanpa ragu, gesekan kain katun pada kulit bahunya menyisakan jejak hangat yang tertinggal.
"Masuk. Nanti makan keburu dingin."
Punggung kemeja yang bergaris-garis itu bergerak menjauh. Kasapi melangkah di atas jejak sepatu ayahnya, menyusuri deretan serat kayu pada lantai papan yang berderit menahan beban.
Di balik dinding yang tak berwujud...
Suara derum mesin cetak mendadak terputus. Bunyi engsel rodanya mereda menjadi dengung panjang.
Pak Hendro mengangkat seikat kertas kalkir bertinta gelap yang baru saja mengering. Matanya menatap ruang melingkar di luar bingkai kaca pintu depan. Ambang pintu yang melowong.
Satu detik. Dua detik.
Tangan tuanya menjangkau apron kain kepunyaan Kasapi yang menggantung di sudut rak kayu. Kain itu dilipat dengan presisi melintang, menyatukan dua sisi yang ternoda tinta biru. Sudut-sudutnya ditekan dengan ibu jari, lalu disisipkan ke dalam laci meja ter bawah.
Laci diurut rapat hingga bunyi *klik* kayu bertemu kayu terdengar pelan.
"Rabia."
Kasapi mengejap. Bayangan jemari ayahnya melayang di atas piring seng.
"Kok malah melamun?"
"Nggak..."
"Duduk."
Kayu kursi berderak ketika Kasapi memindahkan bobot tubuhnya. Satu kakinya terangkat beberapa milimeter setiap kali tekanan bergeser.
Ayahnya mendengkus pendek, jemarinya meraba saku celana kerja.
"Nah. Itu sebabnya Papa beli paku."
Tubuh lelaki itu meluncur turun, berlutut di atas ubin semen yang dingin. Palu kecil tercabut dari saku kain. Sepotong baji kayu diselipkan ke celah antara kaki kursi dan dasar lantai.
*Tok.*
*Tok.*
*Tok.*
Tiga ketukan pendek. Getarannya merambat naik melalui kayu, menyengat pantat dan paha Kasapi.
Kursi itu mati gerak.
"Sudah. Sekarang nggak goyang lagi."
Kasapi menatap serat kayu di bawah lututnya. Kayu baji yang baru diselipkan masih berwarna putih pucat, kontras dengan warna cokelat tua kaki kursi yang tergerus waktu. Hal-hal yang tidak pernah tertangkap dalam bingkai potret kusam di dinding: engsel pintu kamar mandi yang berhenti menjerit setiap kali diolesi minyak kelapa, atau seng atap dapur yang ditumpuki batu kali agar tak terbang dihantam angin barat.
Pengumpul retakan kecil.
Kasapi menundukkan wajah. Bau nasi liwet yang mengepul dari ruang sebelah menembus rongga hidungnya, menenggelamkan rasa asin yang perlahan merayap di celah bibirnya. Ia tidak lagi melangkah sebagai peziarah.
Tetapi jam di dinding ruang depan terus berdetak dengan suara logam bergesek, memotong detik demi detik dengan ketajaman yang tak bersuara.
Ayah menyandarkan gagang palu pada sudut tembok yang terkelupas catnya.
"Nah. Coba duduk lagi."
Yashera melompat dari ambang pintu, membanting pantatnya ke atas dudukan kayu. Kursi itu bergeming.
"Yeay!"
Saktra menarik sudut bibirnya seraya memindahkan tumpukan buku pelajaran ke tepi meja.
"Gitu doang seneng."
"Kan tadi goyang."
"Ya sekarang udah."
"Iya."
"Ya udah."
Lidah Yashera terjulur sedikit. Saktra membalasnya dengan melipat kedua tangan di dada, memalingkan muka ke arah jendela.
Perempuan di dekat kompor memindahkan panci dengan kain lap basah. Uap panas membubung menyapu wajahnya yang kemerahan.
"Kalau masih sempat berantem, berarti masih kuat disuruh ambil piring."
Pergerakan di meja terhenti seketika. Saktra melangkah mundur satu tapak.
"Yashera yang ambil."
"Lho?"
"Tadi yang seneng dia."
"Bukan gitu."
"Udah."
Ayah terkekeh, suara garau dari dadanya menggetarkan udara di antara mereka.
"Bagi dua. Saktra ambil piring. Yashera ambil gelas. Nanti Rabia..."
Mata cokelat itu mengunci wajah Kasapi.
"...bantu Papa ambil nasi."
Kasapi mengangguk. Sudut matanya menangkap gerakan halus ibunya yang sedang mengelap pinggiran mangkuk sayur dengan celana celemeknya.
Mereka bergerak serempak. Gesekan telapak kaki di atas ubin, denting rak piring berbahan seng, dan gemercik air dalam cangkir saling menyalin irama.
Langkah kaki ayahnya membawanya ke sudut dapur yang lembap. Tutup panci seng terangkat, melepaskan kabut uap yang membawa aroma pati beras hangat.
"Nah. Tolong pegang."
Mangkuk aluminium bersuhu tinggi berpindah tangan. Kasapi menahan pinggirannya dengan ujung jari yang tertutup lipatan kain seragam.
Sendok kayu mengikis dasar panci.
*Srek.*
*Srek.*
Butir-butir nasi memadat di dasar mangkuk, perlahan menaikkan bobot di jemari Kasapi.
"Berat?"
"Enggak."
Ayahnya melirik sekilas, garis senyum tertahan di pipinya.
"Berarti sudah mulai gede."
Sentuhan udara panas dari panci menerpa pipi Kasapi. *Sudah mulai gede.* Kata-kata yang runtuh seperti pasir kering di dalam kepalanya. Di tempat yang ia tinggalkan, tidak ada lagi yang mengukur pertumbuhannya dari seberapa kuat ia menahan mangkuk nasi panas.
Jemari ayahnya terulur, mencopot sebutir nasi yang menempel di luar lingkar mangkuk, lalu memasukkannya ke mulut sendiri.
"Lihat. Nasinya jangan dibiarin jatuh. Nanti capek yang nanam."
"Papa..."
"Hm?"
"Dulu Papa diajarin siapa?"
Gerakan ayahnya mengusap sendok kayu terhenti sejenak. Matanya menerawang ke arah jelaga hitam di dinding dapur.
"Kakekmu. Katanya, kalau menghargai sebutir nasi, nanti kita juga belajar menghargai orang yang menanamnya."
Tutup panci dijatuhkan kembali dengan dentang pelan.
"Makanya kebiasaan itu jangan putus."
Kasapi menatap bukit putih di dalam mangkuknya. Pola jari yang terukir saat memegang sendok, sudut miring saat memindahkan piring, cara menyimpan sisa lauk di bawah tudung saji—semuanya tercetak di udara dapur ini tanpa perlu dituliskan.
"Rabia."
Mangkuk aluminium itu berpindah kembali ke tangan ayahnya.
"Ayo. Nanti dingin."
Asap tipis menari-nari di atas meja makan.
Yashera menggoyangkan kedua kakinya yang menggantung, tumitnya menepuk-nepuk kayu bangku secara teratur. Matanya terkunci pada piring kaleng berisi ikan goreng berbumbu kunyit.
"Ibu..."
"Hm?"
"Boleh aku yang paling gede?"
Ibu memindahkan mangkuk bayam, uapnya membasahi kaca jendela di dekatnya.