"Di atas ruang tanpa ujung, sebilah jarum memanah tepi. Berlagak menjadi algojo yang menentukan usainya bunyi."
Pijakan pada jalan setapak itu berubah padat, menampung empat pasang sol sepatu yang mengetuk permukaan tanah berkapur secara bergantian.
Nakta menggeser tali ranselnya beberapa milimeter ke sebelah kiri, membiarkan kain katun seragamnya bergesekan dengan kulit leher yang mulai berpeluh. Di depannya, Josua tidak mengayunkan tangannya dengan lepas; ibu jarinya terselip di dalam saku celana, sementara ujung sepatunya beberapa kali menyentuh batu-batu kecil, menggelindingkannya ke parit kering di tepi gang.
"Lo yakin dia di rumah?"
Langkah Nakta melambat setengah irama. "Harusnya."
"Harusnya gimana?" Razan menyapu kerah kemejanya yang lembap oleh kelembapan sore.
"Iya. Gue juga nggak tahu."
Di barisan paling depan, Tabika menghentikan sol sepatunya tepat di atas akar pohon nangka yang mencuat menembus permukaan tanah. Ia menatap ke depan tanpa memutar bahunya. "Yang penting kita lihat dulu."
Tidak ada ketukan langkah yang bersusulan setelah kalimat itu habis. Bau asap pembakaran sampah basah mengapung dari halaman tetangga, berbaur dengan aroma tanah yang mendingin. Mereka tidak menghitung jumlah langkah yang menyusut di antara mereka dan pagar kayu rapuh di ujung gang, tetapi tiap kali ayunan kaki itu jatuh, ada udara yang terasa menyempit di sekitar leher baju.
Pagar kayu tua itu berdiri melengkung, tertahan oleh kawat karat yang membelit tiang bambu. Pohon mangga di samping rumah menjatuhkan bayangan panjang melintasi atap seng yang mulai kehitaman di bagian tepi.
Tabika menahan langkahnya dua meter sebelum garis bayangan pohon itu menyentuh sepatunya. Ujung-ujung daun kering yang gugur di atas halaman semen tidak bergeser; tak ada sapu lidi yang menyapu permukaannya sejak beberapa hari lalu.
Nakta melangkah melewati celah pagar, mengetuk papan pintu yang mengecatnya mengelupas.
"Kasapi?"
Ketukan itu memantul pendek, diserap oleh serat kayu tua. Ia menumpukan berat badannya pada kaki kanan, mengetuk lagi dengan ruas jari yang sedikit mengeras.
"Kapi?"
Engsel pintu berderit tipis, mengikis lapisan cat kering di bingkainya. Pintu terdorong ke dalam sepuluh sentimeter, membiarkan bau minyak angin dan ruangan yang lama tertutup mengalir ke udara terbuka.
Seorang pria tua berdiri di sana. Garis-garis kulit di sekitar matanya tampak lebih dalam, seperti tanah retak yang terlalu lama ditinggal hujan. Ia menyipitkan mata, membiarkan cahaya sore mengenai separuh wajahnya yang pucat.
"Nakta?"
Penglihatannya tertahan pada tiga figur di belakang Nakta. "Kalian teman Rabia?"
Nakta menggeser bahunya sedikit. "Iya, Kek. Kami mau lihat Kasapi."
Lelaki tua itu tidak memindahkan tangannya dari daun pintu. Jemarinya yang keriput meraba tekstur kayu yang kasar, mengusap bekas seratnya dengan gerakan perlahan.
"Oh..."
Ujung bibirnya terangkat tipis, membiarkan matanya menatap melintasi bahu Nakta, menuju ke arah persimpangan jalan yang kosong. "Rabia. Dia pergi."
Razan menghentikan kibasan tangannya pada baju. Tabika memiringkan kepalanya setengah senti.
"Pergi ke mana, Kek?"
Kakek menggeser telapak tangannya ke arah kusen pintu. "Dia pergi lihat kakaknya."
"Kakaknya?"
"Iya." Gerakan kepalanya pendek, mantap. "Katanya mau menemui keluarganya."
Tabika menunduk, matanya mengunci retakan pada semen di bawah kakinya. Nakta mengerutkan dahi, lipatan kulit di antara kedua alisnya menajam. "Tapi... Kasapi tidak bilang apa-apa ke kami."
Lelaki tua itu mengangguk pelan. Senyum tipisnya tidak berpindah, seperti ukiran tua pada papan jati yang sudah kehilangan warnanya. "Dia memang begitu. Kalau sudah bertemu keluarganya, dia pasti senang."
"Kek." Tabika maju satu langkah, sol sepatunya bergeser di atas pasir halus. "Kakek tidak apa-apa?"
"Saya?" Lelaki tua itu mengeluarkan tawa pelan dari tenggorokannya. "Saya baik."
Namun ketika tumitnya berputar untuk berbalik ke dalam, poros lututnya sedikit goyah. Nakta menahan siku tua itu sebelum lipatan kemejanya menyentuh sudut meja kayu.
"Kek."
"Aku cuma sedikit lemas."
Mereka melangkah melintasi ambang pintu.
Ubin semen dingin menyambut telapak kaki mereka. Di atas meja makan yang tertutup kain kusam, sebuah piring seng dengan sisa kerak nasi mengering di samping botol kaca berisi sisa obat cair. Segelas air bening berdiri di dekatnya, permukaan airnya dihiasi lapisan debu tipis. Di sudut ruang tengah, selembar selimut katun terlipat kaku di atas balai-balai kayu.
"Kakek sakit?"
Lelaki tua itu terus berjalan melintasi lorong remang, menyeret langkahnya yang pendek. "Akhir-akhir ini sedikit demam."
"Terus siapa yang merawat Kakek?" Josua menyuarakan kalimat itu tanpa menghentikan langkahnya di dekat meja makan.
Kakek berhenti di depan pintu kamar yang terbuka separuh. Ia tidak memutar bahunya sepenuhnya. "Rabia."
Keheningan merambat dari ujung ruangan, memadamkan desir angin yang sempat masuk dari celah jendela.
"Tapi..."
Lelaki tua itu memutar kepala, matanya memandang Josua dengan kejernihan yang janggal. "Dia tadi ada."
Di dalam kamar yang temaram, Kakek membaringkan punggungnya pada kasur kapas yang menipis. Tabika langsung menjangkau selembar kain lap di atas kompor minyak yang dingin.
"Nakta, ambil air."
"Iya."
"Josua, lihat obatnya."
"Gue cek."
Gerakan mereka tidak berkejaran, tetapi saling menyambung. Razan memindahkan baskom plastik, Josua meneliti angka tanggal kadaluarsa pada kemasan blister, sementara Tabika memeras kain hingga airnya berhenti menetes di lantai ubin.
Dari pembaringan, mata kakek menatap gerakan tangan Tabika yang mengusap dahinya.
"Kasapi yang minta kalian datang?"