SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #25

Bab 24 — Pancaroba

"Sebilah kayu rela menyuapkan panas, hanya untuk berakhir sebagai jelaga hitam di dinding perapian."



Gelap mengendap pelan dari luar, meleburkan garis batas antara teras dan ruang dalam. Udara dingin merembes dari sela paku jendela yang longgar, menyapu permukaan meja belajar dan mengendap di balik tumpukan kertas. Kasapi duduk di tepi ranjang. Lampu utama dipadamkan hingga menyisakan bohlam lima watt dari lampu meja yang menyiramkan cahaya kuning mengeruh pada permukaan tumpukan buku di sudut.

Buku pelajaran. Catatan sekolah. Kertas tugas dengan lembar tepi yang mulai melengkung.

Jemarinya terulur, menyentuh sudut sampul. Ada lapisan debu tipis yang menempel di ujung telunjuknya. Pada lembar pertama, tinta hitam melukiskan satu nama Rabia Lukadintara.

Ujung jarinya tertahan di atas huruf R. Tekstur kertas bergaris itu terasa kaku, seperti permukaan asing yang baru pertama kali menyenggol kulitnya. Ia menutup buku itu kembali. Bunyi kibasan kertasnya memantul pendek di sudut ruangan, diikuti dengung tipis dari kawat nyamuk yang bergeser ditabrak serangga.

Dari arah teras, derit kayu bergeser mengikis lantai semen.

Langkah kakinya berhenti di ambang pintu.

Kakek duduk membelakangi lorong, dibungkus jaket kain yang seratnya mulai menipis di bagian siku. Cangkir seng di genggamannya memantulkan bayangan redup bohlam teras. Uap airnya sudah padam sejak tadi.

Kasapi menarik kursi kayu di sebelahnya. Kayu mahoni tua itu mencericit pelan saat menampung berat badannya.

Kakek tidak memutar kepala sepenuhnya. "Rabia."

"Belum tidur, Kek?"

Lelaki tua itu mengarahkan pandangannya ke luar, menembus kerapatan daun pohon nangka di tepi gang. "Belum mengantuk."

Keheningan melingkupi mereka, tebal dan dingin. Hanya desir angin yang menyapu dedaunan kering di halaman, serta helaan napas pendek dari dada tua di sampingnya yang berbunyi kencang di antara ketukan malam.

"Kamu dulu sering duduk di sini."

Kasapi menatap garis profil wajah kakeknya—rahang yang kian menyudut, kulit pipi yang jatuh menutupi garis tulang. "Dulu?"

"Waktu kecil."

Jari kakek meraba lingkar bibir cangkir seng yang terkelupas catnya, menggaruk bekas karat halus di sana. Kasapi memejamkan mata sebentar. Ia mencoba memanggil ingatan tentang anak kecil di teras ini, tentang bau tanah basah setelah hujan sore, atau bayangan tubuhnya sendiri yang memanjat tiang kayu. Namun yang melintas justru aroma garam, desir angin pantai yang luas, dan suara lengkingan Yashera yang memanggilnya dari balik bukit pasir. Ada rasa hangat yang merambat di dadanya dari bayangan pantai itu—hangat yang terasa begitu nyata hingga membuatnya nyeri saat menyadari pancingan pijakannya kini adalah semen dingin yang retak.

"Kakek ingat?"

"Ingat."

Jawabannya terucap tipis, hampir tanpa hembusan udara. Kasapi menunduk, menatap jari-jarinya yang meremas pinggiran celana kainnya hingga mengkerut.

"Kek."

"Hm?"

"Kalau..." Ia menelan ludah, merasakan kerongkongannya kaku dan kering. "Kalau seseorang mau cari tahu tentang keluarganya..."

Mata kakek yang muram bergerak pelan, menyapu samping wajah Kasapi. "Kenapa?"

Kasapi membiarkan tangannya melepas lipatan kain celananya. "Cuma penasaran."

Kakek memindahkan cangkir seng ke atas meja kecil. Bunyi benturan logam dan kayu mendingin di udara terbuka. "Boleh."

Ia tidak melanjutkan. Jemarinya yang gemetar merapikan kancing jaket paling atas, menutupi lekuk lehernya yang keriput dari hembusan angin malam.

Kasapi berdiri. "Aku keluar sebentar, Kek."

"Malam-malam?"

"Mau cari sesuatu."

Lelaki tua itu memandangnya beberapa detik. Matanya keruh, memantulkan titik cahaya lampu teras yang tidak fokus, sebelum akhirnya mengangguk sekali.

Papan nama dari lampu neon itu berkedip dua kali sebelum menyala stabil, memancarkan warna biru pucat ke atas aspal gang. Suara bising dari pendingin ruangan yang tua berbaur dengan deru kipas prosesor dan hentakan tombol keyboard yang dipukul cepat.

Kasapi menggeser kursi plastik di bilik nomor sembilan. Bau rokok kretek dan debu elektronik yang panas memenuhi rongga hidungnya.

"Berapa jam, Mas?" penjaga kasir berteriak dari balik layar utama tanpa menoleh.

Lihat selengkapnya