SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #26

Bab 25 — Ambang Sisa

"Matahari yang pasrah ditarik awan kelam, demi menyingkap bintang favoritnya—meski hanya untuk sekali tatap."



Pagi itu, celah-celah kayu gerbang sekolah menyiul tipis disapu angin. Langkah Kasapi tertahan di ambang gang. Ia membiarkan kerikil di bawah sol sepatunya tertekan pelan, menumpuk bobot tubuh yang enggan maju.

Halaman sekolah membentang di hadapannya seperti lembaran kain kelabu yang belum sepenuhnya tersapu matahari. Bau getah tajam dari daun ketapang membusuk di sudut lapangan beradu dengan debu kapur yang membalut permukaan semen koridor. Sepatu-sepatu karet mengetuk ubin dalam ritme yang tidak saling menunggu.

"Pi."

Tali ransel di bahu kiri Nakta terpuntir dua kali. Tumitnya mengikis pasir tipis sebelum berhenti sejajar dengan bahu Kasapi. Bau sabun batangan dan kelembapan kain kering yang belum sempurna dijemur menguap dari kaus seragamnya.

"Lo ngapain berdiri di sini?"

Kasapi memindahkan pandangannya dari cabang ketapang menuju rahang Nakta. Ibu jari kakinya mencengkeram bagian dalam sol sepatu.

"Aku cuma..."

Nakta menaikkan satu sudut alisnya. Lipatan kain di pangkal leher kemejanya memperlihatkan noda kuning bekas keringat kemarin sore.

"Jangan bilang lo lupa jalan masuk kelas."

Kasapi menahan napas yang terasa bersisi tajam di tenggorokan. "Enggak."

Langkah Nakta kembali bergerak, menyapu kerikil dengan ketukan acuh tak acuh. Kasapi menyusul dari belakang, membiarkan bayangannya sendiri bertindihan dengan bayangan tiang bendera yang memanjang.

Pak Guru menorehkan jejak keabuan di atas tumpukan kertas kuarto. Bau tinta stensil yang belum menguap memenuhi udara bagian depan kelas, berat dan berminyak.

Josua menggeser sikut di atas meja papan, menimbulkan decit tajam antara kayu dan kain seragam.

"Nilai ulangan?" tanya Josua.

Kasapi memandang dua ruas jari tangan kanannya yang bernoda bekas tinta hitam.

"Hasil ulangan tengah semester sudah saya periksa." Suara lembaran kertas yang dikibas pelan memotong dengung kipas angin di langit-langit. Di sampingnya, Josua meremas lipatan celana seragamnya hingga katunnya menegang.

"Josua."

Papan lantai berderit saat Josua berdiri. Langkah kakinya berat di bagian tumit saat maju dan membawa pulang lembaran bersudut tulisan tinta merah.

"Delapan puluh lima." Josua menjatuhkan diri ke dudukan kayu. Garis bibirnya meregang tipis. "Masih hidup."

Razan, dari barisan sebelah, menyandarkan punggung ke tembok yang catnya terkelupas. Ujung pulpennya berputar sekali di selipan jari. "Gue kira lo bakal nangis di bawah pohon nangka."

"Nilai tujuh puluh buat gue sudah seperti kehilangan harapan," balas Josua, menyenggol siku Razan.

Tawa pelan meletup di beberapa titik. Kasapi merasakan getaran tawa itu merambat melalui kayu meja, menembus lengan bajunya, lalu berhenti di persendian sikut. Ia menggerakkan otot pipinya, ikut mengembalikan senyum, tetapi ada kekosongan kaku saat otot matanya tidak ikut melengkung.

Nama-nama dipanggil.

"Nakta. Delapan puluh tujuh."

"Tabika. Sembilan puluh."

Kertas bertumpuk makin menipis. Ujung jari guru menelusuri garis margin pada lembar absensi.

"Kasapi."

Kasapi mengangkat dagunya. "Iya, Pak."

Guru itu menghentikan jarinya pada satu sel kosong. Matanya memandang melintasi bingkai kacamata yang ternoda sidik jari.

"Kamu tidak ada nilai."

Keheningan datar mengambang di antara deretan bangku.

"Kamu belum mengikuti ulangan tengah semester."

"Iya, Pak."

"Nanti ikut susulan."

"Iya."

Guru itu mengalihkan pandangan kembali ke tumpukan kertas tanpa mengedipkan mata lebih lama. Kelas kembali bising oleh gesekan tas dan langkah kaki. Celah yang sempat ditinggalkan Kasapi memampat kembali seolah tidak pernah ada yang absen.

Mata pensil 2B itu menyelesaikan lengkungan huruf terakhir di sudut paling bawah buku catatan sejarah.

Saktra.

Kasapi menarik telapak tangannya. Ia mengambil karet penghapus, mengikis pigmen karbon itu hingga meninggalkan bekas keabuan yang kusam. Namun, sebelum debu karet disapu, ujung pensilnya kembali bergerak di tempat yang sama, menancap lebih dalam hingga menembus dua lapis halaman di bawahnya.

Yashera.

Di belakang kelas, sinar matahari sore tertahan oleh rimbun daun belimbing wuluh di dekat pagar seng.

Josua menggeser tempat duduknya. Lututnya bertabrakan pelan dengan kaki meja Kasapi.

"Pi."

Lihat selengkapnya