SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #27

Bab 26 — Menembus Arus

​"Seperti garpu besi yang mendesak gila demi ditampung lembaran putih, yang akhirnya menembus jemarinya sendiri"



Lampu selasar rumah menyiarkan keremangan keatas lantai semen yang lembap. Televisi tabung 14 inci berdesis tanpa suara, memancarkan bias kebiruan yang menyapu permukaan betis Kakek. Lelaki tua itu tertidur dengan kepala miring ke sandaran kursi rotan; jemarinya masih menjepit kain lap kusam yang baunya bercampur minyak kayu putih dan cat minyak.

Di kamar belakang, Kasapi meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja belajar.

Buku pelajaran Sejarah terbuka di halaman empat puluh. Namun mata Kasapi tertahan di celah laci yang sengaja disisakan terbuka sebingkai jari. Dari sana, aroma kertas stensilan warnet yang lembap merembes keluar.

Ia menarik kayu laci itu. Bunyinya berderit mengesek rel.

Lembaran rangkap tiga itu sudah kehilangan kelurusannya. Sudut-sudutnya melengkung kecokelatan akibat terlalu sering dilipat dan ditekan jemur tangan. Foto wajah seorang pemuda berahang tajam terpampang di paruh atas artikel bernama Nisaktra Gumira Pideltha.

Kasapi menelusuri baris-baris cetakan hitam yang memudar di bagian margin. Ujung jarinya berhenti pada deretan huruf yang tercetak kaku:

“…setelah menyelesaikan kontraknya di Italia, Nisaktra dikabarkan akan menjalani proyek pemotretan di Belanda…”

Belanda.

Tenggorokan Kasapi mengering. Ia menjangkau atlas tua di samping tumpukan buku tulis—buku perpustakaan sekolah yang masa pinjamnya kedaluwarsa dua bulan lalu. Halamannya berbunyi kencang saat dibuka, melepaskan debu dan bau jamur kertas.

Jarinya bergerak menyusuri kerumunan garis batas negara di benua Eropa. Jerman. Belgia. Lalu, sebuah daratan kecil dengan warna hijau memudar.

Ia menekan pad jari telunjuknya di atas kata itu hingga kuku jarinya memutih. Jarak beribu-ribu mil laut serasa memampat di bawah permukaan kulitnya yang menegang.

"Jauh," bisiknya pada serat-serat kertas atlas.

Dadanya mengembang singkat. Ruang sempit di bawah tulang rusuknya yang biasanya terasa berpasir mendadak bergetar tipis.

Kasapi menarik buku catatannya yang paling tipis dengan sampul kaku berwarna cokelat tua tanpa nama pemilik. Di lembar pertama, ia menggoreskan ujung pulpennya cukup dalam hingga kertasnya melengkung:

Belanda.

Di bawahnya, ia menambahkan tiga baris pendek:

Paspor.

Visa.

Tiket.

Ujung pulpennya berheti di atas titik terakhir. Tinta hitam meluber melingkar, menyerap perlahan ke dalam serat buku.

Aroma oli panas dan bau seng terbakar menyambut Kasapi di sudut ruangan warnet jam empat sore. Layar-layar komporan 17 inci memancarkan radiasi hangat yang membuat matanya pedih.

Mas penjaga warnet tak mengangkat mata dari ponsel lipatnya. Ia hanya menggeser kunci bilik nomor empat dengan jempolnya yang ternoda abu rokok.

Kasapi duduk di kursi plastik berdecit. Jemarinya mengetuk tombol angka di papan ketik yang huruf-hurufnya sudah tergerus gesekan jari.

Harga paspor Indonesia.

Biaya tiket Indonesia Belanda.

Angka-angka berjejer di dalam tabel kelabu. Kasapi membacanya satu per satu, menghitung jumlah digit yang membentang di belakang tanda titik.

Jemarinya perlahan terlepas dari tetikus. Ia menunduk. Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa ada suara tawa yang menyusul.

Bukan waktu. Bukan pula jarak. Pemisah antara dirinya dan pemuda di lembaran stensil itu ternyata diukur dari berapa banyak potongan kertas tebal berstempel bank yang mampu disimpannya.

Ia tidak mematikan monitor. Layar itu tetap memancarkan deretan angka sembilan digit saat Kasapi melangkah keluar melepaskan bilik empat.

Langkah kaki Kasapi membentur papan pintu rumah saat malam menetas sempurna. Di dinding ruang depan, sebuah bingkai kayu menampung sapuan cat minyak warna jingga kusam—lukisan pematang sawah saat senja yang dibuat Kakek lima tahun lalu.

Kasapi berhenti tepat di bawah bias lampu neon yang mengedip kusam. Ia menatap sudut bawah bingkai yang terkupas tipis.

Kalau dijual...

Kasapi menutup matanya rapat-rapat. Bola matanya berputar kencang di balik kelopak, menolak bayangan itu. Ia memutar tumitnya keras-keras ke lantai semen, berjalan cepat menuju kamar.

Namun angka-angka yang baru saja dibacanya dari layar monitor tidak ikut tertinggal di lorong. Mereka merembes masuk melalui celah pintu, hinggap di sela jari, menyusup di antara denyut nadinya.

Percetakan Manara berbau asam kaporit dan tinta offset kering. Mesin cetak rotasi berdentam memukul lantai papan, menggetarkan sol sepatu Kasapi yang tipis.

"Pi."

Pak Hendro keluar dari balik tumpukan kardus plano, memegang seikat kertas kalkir dengan jemari yang selalu berjelaga hitam.

"Iya, Pak?"

"Minggu depan ada tiga ribu lembar undangan pernikahan. Toko sebelah angkat tangan." Pak Hendro menepuk bahu Kasapi dengan telapak tangannya yang tebal dan kasar. "Bisa lembur sampai malam?"

Kasapi tidak melihat raut lelah di dahi Pak Hendro. Matanya tertahan pada lipatan uang di dalam saku kemeja pria tua itu.

"Bisa, Pak. Sabtunya saya ambil penuh."

Pak Hendro menyipitkan mata, menatap pergelangan tangan Kasapi yang mengering dan menonjolkan tulang. "Kamu ndak dicari Kakekmu?"

"Kakek tidur jam delapan."

Pak Hendro mendengkus, mengibaskan kertas kalkirnya hingga berbunyi keras. "Ya sudah. Tapi kalau pingsan dekat mesin, takpotong upahmu."

Kasapi menyusun tumpukan kertas plano itu ke meja potong tanpa menyahut. Di dalam sakunya, lima lembar uang kertas dua puluh ribuan yang dilipat empat menekan paha kirinya.

Di tepi jalan pasar sepulang dari percetakan, Kasapi melewati etalase toko perlengkapan sekolah. Sebuah tas punggung warna hitam berbahan terpal tebal terpajang di dekat lampu halogen.

Ia memegang tali ranselnya sendiri. Sambungan kain di bahu kirinya sudah melonggar, memperlihatkan benang sintetis putih yang terurai seperti jaring laba-laba. Jika ia menaruh buku Sejarah yang tebal besok pagi, jahitan itu dipastikan robek total.

Kasapi menatap label harga di sudut etalase.

Empat puluh lima ribu.

Lihat selengkapnya