SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #28

Bab 27 — Ujung Senja

"Maafkan saya; samudra rela meratakan dadanya, sekadar agar tersedia ruang kosong bagi seluruh badai yang Anda ikatkan ke lehernya."



Langit sore tersapu bersih—resik, tanpa sehelai awan pun yang tersangkut di birunya.

Cahaya matahari miring dari barat, memanjangkan bayangan batang mangga hingga memotong teras rumah dalam garis kusam yang rata. Di halaman, bunyi kucuran air selang beradu dengan denting ember seng. Ayah membungkuk meraba belitan karet yang bocor, jemarinya berlepotan tanah basah. Di garis jemuran, Ibu mengibaskan kain katun; kepakan kainnya terdengar seperti kepakan sayap burung besar yang gagal terbang.

Yashera melompat-lompat mengejar gelembung sabun. Lingkaran tipis itu membiaskan warna minyak di udara, pecah tanpa bunyi tepat sebelum menyenggol ujung hidungnya. Saktra berdiri dengan tabung plastik di tangan, meniupnya lagi dengan pipi mengembang.

Kasapi berdiri di ambang pintu. Ujung sendalnya mengikis sedikit cat kayu yang memudar. Dari balik kemeja tipisnya, detak dadanya tidak beraturan—seperti derak gir sepeda yang kehilangan rantai.

Ia berbalik, masuk ke kegelapan ruang tengah yang berbau kapur barus.

Laci meja televisi berderit kencang saat ditarik. Di antara tumpukan kaset pita dan nota listrik tua, kamera saku hitam itu terbaring. Logam dinginnya menyerap keringat di telapak tangan Kasapi. Ketika tombol daya digeser, bunyi magnetik pelan terdengar, disusul pendar hijau tipis dari layar mikroskopisnya.

Kasapi mengembuskan udara lewat hidung. Benda itu masih menyimpan arus listrik.

Ia kembali ke teras, menyandarkan bahu pada selasar.

"Yah."

Punggung Ayah menegak. Bau tanah basah dan karet tua menguar dari kausnya. "Hm?"

"Foto."

Ayah menyapu dahi dengan lengan atas, meninggalkan jelaga hitam di kulitnya. Tatapannya tertahan sekilas pada benda kecil di jemari Kasapi. "Sekarang?"

"Iya."

"Memangnya ada yang hajatan?"

Kasapi menggeser tumpuan kakinya. "Pengen aja."

Satu keluarga itu berkumpul di bawah rindang mangga. Ibu menyapu helai rambut Yashera ke belakang telinga, menyematkannya dengan jepit plastik berbentuk kupu-kupu. Saktra menyenggol bahu adiknya sampai anak kecil itu bersungut-sungut. Ayah mengambil posisi di samping Ibu, mengibaskan sisa air dari tangannya ke celana kainnya.

Kasapi menumpuk dua batu bata di atas bangku kayu, meratakan posisi kamera.

Pengatur waktu ditekan. Titik merah di samping lensa mulai berkedip-kedip kaku, mengeluarkan bunyi bip bertempo cepat.

Ten.

Nine.

Eight.

Kasapi berlari kecil. Rumput kering menusuk telapak kakinya yang telanjang. Ia menyusupkan tubuhnya ke celah sempit di antara Ayah dan Saktra. Lengan Saktra yang hangat menyenggol ketiaknya.

Three.

Two.

One.

Cahaya putih menyengat bola mata. Bayangan daun mangga tercetak sekilas di retina Kasapi.

Yashera menepuk tangannya, menghasilkan bunyi kebuk yang basah. "Lagi!"

Kasapi menekan tombolnya kembali. Sekali lagi. Sekali lagi. Ayah memiringkan mulutnya, menarik pipi dengan dua jari hingga Yashera memekik kegirangan. Saktra memiting leher adiknya pelan.Kasapi tertawa. Tenggorokannya merasakan getaran tawa itu—sesuatu yang terasa nyata, padat, dan hangat.

Untuk beberapa menit, bau lengket dari getah pohon dan hangat udara sore menutup seluruh celah di kepalanya.

Malamnya, lampu kamar mandi yang berderum menjadi satu-satunya latar suara.

Kasapi duduk di sudut tempat tidur. Layar kamera yang buram dinyalakan.

Foto pertama. Rapi. Ayah tersenyum miring, Ibu menunduk setengah melihat Yashera, Saktra memasang wajah konyol.

Foto kedua. Gerak tubuh Yashera membuat bayangan tangannya memanjang seperti sayap kelelawar.

Foto ketiga.

Kasapi membeku.

Di layar kecil berukuran dua inci itu, hanya ada empat figur. Ayah. Ibu. Saktra. Yashera.

Di antara Saktra dan Ayah, ada jarak satu jengkal. Rumput kering dan batang pohon mangga terlihat utuh di sana. Tidak ada lipatan kemeja. Tidak ada pundak. Tidak ada siluet.

Jemarinya menusuk tombol navigasi.

Foto keempat: empat orang.

Foto kelima: empat orang.

Ruang kosong itu tetap di sana—kaku, rata, dipenuhi bayangan daun.

Darah di pelipis Kasapi berdenyut kencang, memukul-mukul kulit kepalanya. Ia mematikan kamera, menyalakannya kembali. Pendar hijau memancar lagi. Hasilnya tidak bergeser satu milimeter pun.

Ia mengingat rasa dingin kemeja Saktra yang menyenggol lengannya saat kilatan cahaya meletup. Ia mengingat genggaman jari Yashera di celananya. Namun layar itu tidak mencatat apa-apa selain udara hampa.

Di meja makan esok paginya, aroma minyak goreng bekas bercampur bau koran basah.

Kasapi meletakkan kamera itu tepat di samping cangkir kopi Ayah. Metalnya berdenting menyenggol porselen.

"Ayah."

Ayah menurunkan ujung koran. Matanya yang merah menatap layar kecil yang sudah menyala. Jemari tangannya yang kasar meraba pinggiran plastik kamera.

"Rapi," kata Ayah pelan. "Warnanya dapet."

Kasapi menahan napas di pangkal tenggorokan. "Bagus?"

Lihat selengkapnya