"Genangan keruh menagih daratan kusam, menenggelamkan angkuh tanah demi menyelamatkan jalurnya yang lebur."
Ruang kosong itu tidak datang dengan suara gaduh. Ia menyusup seperti udara lembap yang perlahan melapukkan tiang penyangga di kolam bawah rumah: diam-diam, tanpa ketukan, mengikis batas antara dua peristiwa hingga yang tersisa hanya lapisan lengkit yang seragam.
Di atas meja kayu Percetakan Manara, gigi gir besi nomor empat berputar dalam derum yang konstan. Bau minyak pelumas kusam bercampur abu stensil yang mengendap di rongga hidung. Kasapi menumpuk dua ratus lembar lembar tugas sekolah di samping mesin potong, jarinya yang kelabu oleh jelaga kertas memetik sudut-sudutnya hingga menghasilkan bunyi *tak-tak-tak* yang teratur.
Ia tidak lagi ingat jam berapa ia berjalan dari gerbang. Di telapak kakinya ada bekas gosokan kaus kaki kaku yang belum sempat dijemur kering. Namun jarak dari rumah kakek menuju bangku cetak ini tidak menyimpan ingatan tentang langkah. Hanya ada garis lurus yang mendadak putus, lalu bersambung di depan tuas baja yang dingin.
"Pi."
Kasapi tidak menoleh. Jempolnya mengusap selapis minyak hitam di tepi meja.
"Kasapi."
Sebuah telapak tangan menapak di sudut kayu. Kulitnya tebal, bercak hitam mengering di celah kuku. Pak Hendro menunduk, matanya yang kemerahan tertahan pada tumpukan kertas yang terlipat sedikit miring di tepi pemotong.
"Sudah dari tadi?"
Kasapi memindahkan tumpukan itu setengah senti ke kiri. "Gigi tiga bunyi lagi, Pak."
Pak Hendro tidak memandang mesin. Matanya meraba kemeja seragam Kasapi yang kancing atasnya lepas sepenggal, memperlihatkan cekungan tulang selangka yang membiru kusam. "Kamu sudah dua kali salah memotong ukuran folio pagi ini."
Kasapi menyapu permukaan kuku jempolnya ke kain celana. "Bisa diratakan."
"Kertasnya kependekan dua milimeter." Pak Hendro mengambil satu lembar, membiarkan kertas itu terlempar pelan kembali ke tumpukan. Kertas itu jatuh tanpa bunyi, menimpa ketiadaan yang menggantung kaku di antara mereka.
Di kelas, papan tulis hitam itu memantulkan pendar matahari pagi yang pucat. Debu kapur melayang-layang dalam lingkaran cahaya, jatuh perlahan ke atas guratan kayu meja.
"Tahun seribu delapan ratus tujuh belas," suara Pak Guru bergetar pelan di depan kelas, diselingi gesekan ujung kapur yang menyengat telinga.
Kasapi menatap garis-garis lengkung kapur yang membentuk angka tujuh. Di sela ketukan kapur yang monoton, ada helai udara lain yang mendadak menembus dadanya—bau teh melati yang pekat, denting sendok seng yang membentur bibir porselen, dan bunyi gesekan kemeja katun yang licin.
“Rabia, gulanya kurang setengah sendok.”
Bibir Kasapi mengendur. Garis pipinya tertarik tipis ke atas, meninggalkan celah kecil di antara dua bibirnya yang kering.
Sebuah siku menyenggol lengan bajunya.
"Pi."
Kasapi berpaling. Wajah Josua tampak terlalu dekat, pori-pori di cuping hidungnya yang agak lebar memantulkan minyak tipis.
"Apa?"
Josua menatap bibir Kasapi, lalu beralih ke keningnya yang licin tanpa keringat. "Lo senyum ke papan tulis dari tadi."
Kasapi meraba dagunya. Kulitnya terasa tebal, seperti lapisan kain basah yang menempel pada daging. "Nggak."
"Gigi lo kelihatan, Pi." Josua tidak menjauhkan sikunya. Ia menunjuk dengan ujung pensil kayu yang tumpul ke arah meja Kasapi. "Buku sejarah lo kebalik dari jam pertama."
Kasapi melihat kertas berseri di bawah tangannya. Gambar peta kepulauan itu berada di atas, dengan cetakan nama kota yang berdiri terbalik. Ia membalik buku itu tanpa menimbulkan bunyi. Jemarinya diam di atas lekukan jilid kawat yang dingin.
"Mikirin apaan sih?" bisik Josua lagi. Jarinya mengetuk ujung meja Kasapi, menciptakan getaran kecil yang merambat ke siku Kasapi.
Kasapi menatap mata Josua—ada bercak merah kecil di sudut kornea kiri temannya itu, bekas kelelahan atau asap kendaraan. Ia ingin menyebut nama jalan di depan percetakan, atau bau cat air yang mengering di kamar Kakek, atau meja kayu tebal tempat Saktra menumpuk majalah-majalah bergambar kereta. Namun lidahnya terasa berat, bertumpuk kaku di dasar mulutnya seperti segumpal kain basah.
"Cuma ingat," kata Kasapi.
Josua menggeser duduknya kembali ke tengah bangku. Ia tidak bertanya ingat apa. Matanya kembali menyusuri papan tulis, tetapi bahu kirinya tetap tegang, condong sedikit ke arah Kasapi seperti menahan beban yang tidak kelihatan.
Cangkir gerabah itu duduk di atas rak kayu.
Permukaannya tidak lagi tampak cokelat tua, melainkan warna tanah kusam yang menyerap seluruh pendar lampu kamar. Ada retakan tipis di dekat pegangannya—garis hitam sebesar sehelai rambut yang tidak merembeskan air, tetapi terasa tajam jika diusap dengan ujung telunjuk.
Kasapi duduk di tepi kasur kapuknya. Kain celananya berbau asap kendaraan dan minyak goreng bekas dari kantin sekolah.
Ia tidak menyentuh cangkir itu. Ia hanya memandangi garis retak di sisinya.
"Aku cuma mau lihat," bisiknya pada tiang kelambu yang lapuk.
Kalimat itu melayang di udara kamar yang pengap, lalu hinggap di dinding seperti lalat kusam. Tidak ada gema. Tidak ada pembelaan. Kasapi menyodorkan jemarinya ke saku celana, meraba lembaran uang lima ribuan yang kaku dan lusuh oleh keringat ketiak penjual roti.
Angka-angka di buku catatannya telah melampaui separuh dari garis yang ia gambar tiga minggu lalu. Namun setiap kali ia menumpuk dua lembar uang baru di bawah lipatan kasur, rasa dingin yang ditinggalkan lembaran kertas itu justru tidak berbekas di dadanya. Ia tidak lagi mengejar angka; ia hanya takut jika jemarinya berhenti bergerak, angin dari teras belakang akan meniup seluruh ruang ini hingga runtuh.
Sore di dalam cangkir selalu berbau daun mangga yang dibakar basah.
Saktra membalik halaman majalah bergambar menara besi di tangannya. Bunyi kertas galian tebal itu bergema riyang di teras kayu yang resik.
"Masih mau ke sana?" tanya Saktra tanpa mengalihkan pandangannya dari foto berlatar langit keabuan.
Kasapi menatap sandal karet Saktra yang bersih dari debu jalanan. "Ke mana?"