"Baling-baling berputar memotong angin, menyedot sesak di punggungnya demi menghembuskan napas lega pada patung yang tak pernah mengukur kapasitasnya."
Kayu bangku tepi lapangan itu menyerap panas matahari pukul dua siang. Bau karet terbakar dan debu galian memadat di udara.
Josua memutar tutup botol plastiknya hingga terdengar derit putus yang tajam. "Lo nggak jualan hari ini?"
Kasapi menggeser posisi paha. Ibu jarinya terus menekan tombol samping ponsel berkamera buramnya, menghitung selisih angka lima ratus ribu dari daftar cetak stensil yang belum tertagih. "Nanti."
"Nanti apa?"
"Ada urusan."
Josua tidak meminum airnya. Ia meletakkan botol itu di antara dua kakinya yang beralas sepatu kain kusam. "Lo selalu begitu."
Kasapi meletakkan ponsel ke atas buku catatan bersampul biru yang terbuka di pangkuannya. Di sela-sela angka nominal rupiah, huruf 'B' kapital yang digores dengan tinta pekat masih terlihat basah. "Urusan kerjaan."
"Bukan." Tabika yang duduk di ujung bangku memindahkan kotak plastik berisi kue basah ke sebelah lututnya. Jemarinya yang kemerahan bekas minyak goreng mengetuk pinggiran bangku kayu. "Terakhir kita duduk lengkap di sini kapan, Pi?"
Kasapi menatap susunan angka di kertasnya. Satu juta dua ratus ribu. Lalu ada coretan pensil miring: Tiket kapal/kereta transit.
"Kemarin," sahut Kasapi pelan.
"Dua bulan lalu," potong Razan. Punggungnya menyandar kaku pada tiang besi gawang yang berkarat. Dari saku celananya, ia mengeluarkan bungkus rokok kosong yang sudah dipipihkan, meremasnya melingkar dengan buku-jarinya yang tebal. "Waktu lampu jalan depan rumah Nakta mati semua."
Kasapi menoleh. Di ingatan kepalanya, ada bayangan lampu gantung kuning dengan meja makan kayu tebal dan piring porselen utuh. Ia mencari keremangan jalan depan rumah Nakta, namun yang terbayang hanya pendar hijau dari layar kamera saku di rumah cangkir.
"Gue sibuk," kata Kasapi.
"Kertas lo hampir bolong tuh," Nakta menunjuk dengan dagunya.
Batu pensil di tangan Kasapi telah menekan kertas biru itu terlalu dalam, meninggalkan cekungan putih kusam tanpa tinta tepat di samping tulisan nama Josua.
Jalan setapak menuju pohon ketapang tua di tepi sungai terhalang oleh tumpukan pelepah kelapa kering.
Langkah Kasapi tersendat di celah akar yang mencuat. Sepatunya menyenggol kaleng seng bekas, menimbulkan bunyi *klang* yang memecah kesunyian sore yang garing.
"Hati-hati," kata Nakta dari depan. Tangannya reflek terulung ke belakang, tetapi jarinya tidak menyentuh lengan seragam Kasapi. Mengantung begitu saja di udara sebelum ditarik kembali ke saku jaketnya.
Kasapi berhenti di samping guratan semen bekas dudukan tiang listrik tua. Kulit semen itu mengelupas, memperlihatkan kerikil tajam di dalamnya. Ia memandangi belokan sungai yang menyempit dan menyisakan lumpur hitam berbau busuk.
"Ini..." Kasapi menahan napas. "Sejak kapan jalannya dipagar semen?"
Josua, yang berjalan dua langkah di sampingnya, berhenti. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap ujung sepatu Kasapi yang berdebu. "Dipagar dari tahun lalu, Pi. Waktu selokan utama dikeruk."
Kasapi meraba saku celananya. Pinggiran cangkir gerabah dingin di dalam sana menusuk pangkal pahanya melalui kain tipis. Ia mengingat lorong rumah beratap seng dengan pintu jati berukir yang bersih tanpa debu. Di sana, jalanan tidak pernah dipagar. Jalanan selalu menuju ke teras rumah yang pintunya sedikit terbuka.
"Oh," kata Kasapi.
"Lo benar-benar nggak ingat?" tanya Tabika. Ia melangkah melewati Kasapi, bau minyak jelantah dari kantong plastiknya menguar tajam menyenggol hidung.
Kasapi tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya, tetapi setiap kali tumitnya menghantam tanah basah, dadanya bergetar pelan—seperti ada kekosongan yang tidak tumpat oleh udara.
Pohon ketapang itu kehilangan separuh daunnya. Pita-pita merah dari ulang tahun Nakta yang menggelantung di dahan bawah kini menghitam, terpilin kaku seperti akar gantung yang mati.