SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #31

Bab 30 — Puing Pasir

"Deras lautan merobek seisi daratan, memuntahkan rasa asin yang lebur pada pasir."



Udara di dalam kamar berbau minyak kelapa tua dan kain katun yang lama tidak dijemur. Kasapi tidak beranjak dari pinggir dipan. Kakinya menggantung dua jengkal di atas lantai semen yang dingin, menapak pada debu halus yang mengepul setiap kali jempol kakinya bergerak.

Di hadapannya, di atas meja kecil berlapis melamin yang terkelupas di sudutnya, cangkir gerabah itu terletak begitu saja.

Benda itu kusam. Ada gompal sebesar biji ketumbar di bibir atasnya, tempat cat cokelat tuanya terkelupas dan memperlihatkan pori-pori tanah liat yang kelabu. Tidak ada uap. Tidak ada pendar cahaya kebiruan seperti yang sering merayap di dinding saat malam merangkak naik. Hanya sebuah mangkuk kecil dari tanah bakar yang diam, menyimpan sisa endapan teh kemarin sore yang kini telah mengering menjadi kerak hitam pekat di dasarnya.

Kasapi mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya gemetar—bukan karena demam, melainkan karena otot-otot di lengan bawahnya terasa kaku, seperti kawat yang ditarik terlalu tegang selama berminggu-minggu. Ia menyentuh pinggiran cangkir. Dingin. Permukaannya menyerap kehangatan kulitnya dengan rakus.

Di luar, suara batuk Kakek memecah kesunyian dapur. Dahak yang tertahan di tenggorokan tua itu bergesek pelan, disusul bunyi gesekan kaki kursi kayu di atas lantai ubin yang tidak rata.

Ini rumah siapa?

Kalimat itu berputar di dalam kepalanya, menggerus dinding-dinding kesadarannya dengan suara serak yang basah. Kasapi menutup mata. Kelopak matanya bergetar hebat. Di balik kegelapan itu, ia tidak melihat wajah ibunya di dunia cangkir, tidak pula tawa Saktra atau kehangatan meja makan berlapis taplak putih. Ia hanya melihat punggung Kakek yang membungkuk di depan wastafel, memegang cangkir kosong dengan tangan gemetar parah, mencari-cari ke mana arah pintu depan.

"Tidak," bisik Kasapi. Suaranya serak, nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri. Ia menggelengkan kepala cepat-cepat. "Aku masih bisa memperbaikinya."

Kalimat itu meluncur begitu mudah di bibirnya, namun di dalam rongga dadanya, kata-kata itu terasa hampa, jatuh menumbuk tulang rusuk tanpa memantulkan gema apa pun.

Di sudut perpustakaan sekolah, meja kayu panjang berukir cat cokelat tua itu terasa lengang.

Josua membalik halaman buku cetak biologi tanpa benar-benar membaca huruf-huruf di dalamnya. Matanya terpaku pada kursi kosong di seberang Tabika. Tidak ada tas kanvas usang di sandarannya. Tidak ada buku catatan bersampul biru dengan coretan angka-angka rupiah.

"Apa kita masih harus ngajak dia?" suara Razan memecah keheningan. Nadanya datar, nyaris seperti gumaman orang yang sedang menghitung sisa uang kembalian di saku.

Tabika tidak langsung menjawab. Ia merapikan ujung-ujung lembar kertas tugas kelompok mereka, melipatnya sejajar dengan garis meja. "Dia bukan nggak tahu kita ada."

"Lalu?"

"Dia tahu." Tabika menunduk, dagunya hampir menyentuh permukaan meja. "Dan itu yang bikin sakit."

Josua menutup bukunya dengan gerakan pelan. Bunyi thap yang lunak menggantung di udara perpustakaan yang berbau debu kertas tua. Ia teringat bagaimana Kasapi dulu selalu datang paling awal, membawa dua potong kue basah terbungkus plastik bening, membagi-bagikannya tanpa banyak bicara sebelum bel masuk berbunyi. Sekarang, bahkan bayangan punggung anak itu di ambang pintu kelas terasa seperti sesuatu dari masa lalu yang terlampau jauh untuk diraih.

Sore itu, teras percetakan Pak Hendro berbau timah panas dan cairan pembersih rol mesin.

Pak Hendro mengelap tangannya yang belepotan tinta hitam dengan selembar kain majun yang sudah keras. Matanya menatap Kasapi yang berdiri di samping meja potong kertas, memegang segepok nota kosong tanpa merapikannya.

"Kamu terlambat," kata Pak Hendro.

Kasapi menatap lantai semen di bawah sepatunya. Noda oli lama membentuk lingkaran hitam pekat di dekat kaki meja. Biasanya, ia akan langsung menyambar kain pel atau mengajukan alasan tentang tugas sekolah yang menumpuk. Hari itu, ia hanya menatap kosong ke lantai.

"Iya," jawab Kasapi pelan.

Pak Hendro meletakkan kain majunnya di atas mesin cetak. Suara besi beradu dengan besi terdengar nyaring di ruangan yang sempit itu. Ia berjalan mendekat, berhenti dua langkah di depan Kasapi. Bau tembakau giling melingkupinya.

"Kamu tidur?"

"Sedikit."

"Makan?"

Kasapi diam. Tenggorokannya terasa tersekat oleh sesuatu yang keras, seperti menelan serpihan kaca kecil.

Lihat selengkapnya