SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #32

Bab 31 — Pantulan Bunyi

"Busur berkehendak melepaskan, sedang panah meluruhkan seluruh tubuhnya demi tertancap perjanjian tawar menawar"



Suara air kran yang jatuh menumbuk mangkuk seng di dapur berdering rata. Tidak ada derit engsel, tidak ada derap langkah kaki Kakek yang terseret di atas ubin semen. Hanya bunyi pluk, pluk, pluk yang jarak antar-tetesannya tercetak tepat dalam sepersekian detik yang patuh.

Kasapi menatap ibu jarinya. Garis-garis sidik jarinya bersih. Tidak ada noda tinta stensil berwarna ungu kusam, tidak ada bekas luka tergores pisau pemotong kertas dari percetakan Pak Hendro. Kulitnya terlalu mulus, memantulkan cahaya lampu gantung berkap kain kuning yang menggantung tegak tanpa berayun sedikit pun oleh angin.

"Dunia cangkir," kata Kasapi.

Suaranya datar, ditelan begitu saja oleh dinding berpanel kayu jati yang licin tanpa debu.

"Aku ingin tinggal di sana."

Tidak ada petir. Tidak ada embusan angin panas yang mematikan lilin. Udara di sekelilingnya hangat, berbau vanila buatan dan mentega cair yang terus-menerus mendidih pelan di panci tembaga.

"Kenapa?"

Suara itu datang tanpa arah, seperti gema di dalam ruang mandi yang kosong. Kasapi menunduk. Ia menatap cangkir gerabah di tangannya. Tekstur pori-pori tanah liat yang tadinya kasar dan menajamkan kulit kini terasa licin, seperti porselen mahal yang disepuh lilin.

"Aku capek."

Ia menarik napas. Paru-parunya terisi udara manis yang hangat, namun tidak menyengat. "Di sana aku tidak perlu takut bangun dan menemukan semuanya hilang."

Cahaya menyebar dari empat sudut ruangan. Pendarannya tipis, putih seperti susu yang diencerkan, mengikis sudut-sudut tajam lemari, menghapus retak rambut pada cermin rias, menyapu bersih bercak minyak di tepi meja.

Ibunya membalik potongan roti panggang di atas wajan teflon. Bunyi desis minyak mentega terdengar stabil.

"Kamu sudah pulang," kata Ibu.

Ia menoleh, menyunggingkan senyum dengan sudut bibir yang tertarik tepat dua sentimeter ke atas. Matanya yang jernih memantulkan cahaya lampu dapur tanpa ada bulu mata yang berkedip.

Kasapi mengambil tempat duduk di kursi kayu berkaki lurus. Di seberang meja, Saktra sedang menyesap kopi dari cangkir keramik putih.

"Tadi malam," kata Saktra, meletakkan cangkirnya dengan bunyi clink yang amat bersih, "aku ketemu teman lama di dekat stasiun. Dia bawa sepeda balap warna merah. Rantai sepedanya putus waktu melintasi jalan tanjakan."

Kasapi mengunyah potongan rotinya. Menteganya lumer di lidah, manis dan pas, namun tidak meninggalkan sisa rasa setelah ditelan. "Sepeda merah?"

"Iya," Saktra tersenyum. "Rantai sepedanya putus waktu melintasi jalan tanjakan."

Dua hari kemudian, sore hari di meja yang sama.

Ibu sedang memotong buah apel menjadi delapan bagian yang ukurannya identik. Saktra meletakkan cangkir keramik putihnya. Bunyi clink itu berulang pada frekuensi yang sama.

"Tadi malam," kata Saktra, matanya menatap lurus ke arah ujung hidung Kasapi, "aku ketemu teman lama di dekat stasiun. Dia bawa sepeda balap warna merah. Rantai sepedanya putus waktu melintasi jalan tanjakan."

Kasapi menghentikan garpunya yang hampir menusuk potongan apel. Garpu seng itu bergetar tipis di antara jemarinya. "Saktra."

"Iya?"

"Kemarin kamu sudah cerita tentang sepeda merah."

Saktra mengedipkan mata satu kali. "Tadi malam aku ketemu teman lama di dekat stasiun."

Kasapi meletakkan garpunya. Bunyi benturan logam dengan piring porselen tidak menghasilkan gema. Ia melihat ke arah Yashera yang duduk di karpet. Adiknya memegang pita rambut berwarna merah jambu, menjatuhkannya ke lantai, lalu memungutnya kembali dengan gerakan siku yang persis sama setiap empat belas detik.

Kasapi berdiri. Lututnya menabrak tepi meja. Meja kayu berat itu tidak bergeser satu milimeter pun. Piring-piring di atasnya tidak berdenting. Roti panggang di dalam piring tetap memancarkan uap tipis yang bentuk kelokannya tidak pernah berubah sejak tiga jam lalu.

Di luar, jalanan kompleks perumahan membentang lurus. Pohon-pohon mahoni berbaris rapi dengan daun-daun hijau kusam yang tidak pernah gugur. Tidak ada debu yang diterbangkan angin. Tidak ada daun kering yang berkersek di bawah tapak sepatu.

Kasapi berjalan ke tepi pagar. Kayu pagarnya dicat putih bersih, tanpa bercak lumut, tanpa paku yang berkarat. Ia menempelkan telapak tangannya pada permukaan kayu itu. Tidak ada suhu. Tidak dingin, tidak hangat. Justru rasa 'tidak ada' itu yang membuat punggungnya bergidik.

"Ini berhenti," kata Kasapi.

Lihat selengkapnya