"Renyah tanah terseret angin hingga tak tersisa lagi tempat untuk berpijak."
Bandara Singapura memudar dari kelopak matanya seperti cat yang disapu thinner. Langkah-langkah kaki pembawa koper menyusut, meninggalkan keheningan berdebu di halaman rumah tua Kakek.
Kasapi kecil menyedot ingusnya yang hampir meleleh. Punggung Saktra sudah lenyap di balik pintunya sendiri—pintu yang di atasnya tertempel stiker gambar pesawat balap yang pinggirannya mulai terkelupas.
"Nanti pasti pulang," gumam Kasapi kecil.
Di kursi belakang mobil sedan tua Kakek, bau jok kulit yang kepanasan memenuhi paru-parunya. Kaca jendela memantulkan pipinya yang menempel ketat hingga kulitnya memucat. Pohon-pohon mahoni di sepanjang jalan menuju perumahan berderet mundur, bergerak kaku.
"Kakek."
Kakek tidak langsung menoleh. Jemarinya yang dipenuhi bintik-bintik penuaan membelai lingkar kemudi yang terbalut kain wol kusam. "Hm?"
"Singapura jauh?"
"Harus menyeberang laut."
"Kalau jalan kaki?"
Lampu sein berbunyi tek-tok-tek-tok diiringi getaran mesin tua yang kendor. "Sepatumu bakal bolong sebelum sampai pelabuhan."
Kasapi kecil mengusap ujung dadanya yang mendadak gatal oleh jahitan kaos. "Kalau naik pesawat?"
"Satu jam." Kakek memindahkan gigi mobil. Suara transmisi berdecit tajam. "Kurang sedikit."
Satu jam. Kasapi membayangkan jarum jam dinding di dapur berputar satu kali putaran penuh. Itu tidak lama. Sama dengan durasi menunggu kue bolu kukus Ibu mengembang di atas panci.
Rumah tua itu menyambut mereka dengan aroma terpentin dan kayu lapuk yang terbakar matahari sore. Di sudut teras, empat kanvas berdebu bersandar miring, menghadap ke arah pagar cat putih yang terkelupas di beberapa titik.
"Kamu tinggal di sini dulu," Kakek meletakkan tas kain biru di atas meja rotan.
Kasapi kecil menatap keranjang baju kotor di samping lemari. "Berapa lama?"
Kakek menarik napas panjang. Udara yang keluar dari hidungnya berbau tembakau campur kayu manis. Ia berjongkok, merapikan kerah kaos Kasapi yang terlipat. "Sampai urusan di sana selesai."
Di dapur, Kakek menyeduh teh hitam. Air panas yang menghantam daun teh menghasilkan warna cokelat pekat, berbau pahit yang menempel di lidah. Kasapi duduk di bangku kayu, kakinya tergantung tidak menyentuh lantai.
"Kenapa lukisan Kakek dipajang di dinding belakang saja?"
Kakek memutar sendoknya dalam cangkir seng. *Kling. Kling.* "Supaya tidak kotor kena debu jalanan."
"Bukan supaya dibeli orang?"
Kakek terkekeh pendek. Suaranya pecah di tenggorokan. "Orang-orang cuma mau beli gambar rumah yang catnya masih baru, Pi. Lukisan Kakek gambarnya pohon yang daunnya mau gugur."
Kasapi kecil menatap kanvas di sudut. Garis-garis cat minyak warna cokelat tua dan abu-abu menumpuk di sana, kaku dan tebal. "Aku suka pohonnya."
Kakek tidak menjawab. Ia mengusap jempolnya yang ternoda cat hitam ke celana kainnya yang sudah kusam.
Tiga minggu berlalu. Setiap sore pukul lima, ketika bayangan tiang listrik memanjang hingga menyeberangi parit, Kasapi kecil duduk di atas benteng pagar semen. Matanya menatap lurus ke belokan jalan raya.
Jika ada deru mesin angkutan kota berhenti di depan gang, dadanya berdenyut cepat. Seseorang turun membawa kantong plastik hitam—bukan Ibu. Seseorang turun mengayuh sepeda—bukan Saktra.
Telepon hitam di meja tengah berdering pada malam ke-twenty-one.
Kasapi melompat dari dipannya. Gagang telepon yang dingin menempel ketat di telinganya.
"Kasapi?"
Aroma sabun mandi dan kapur barus dari balik kabel telepon mendadak terbayang. "Ibu! Yashera mana?"
"Yashera lagi di kamar mandi," suara Ibu terdengar tipis, diiringi kresek sinyal interlokal yang berdesis. "Kamu makan apa tadi sore?"
"Sayur bening kangkung. Kakek bikin tehnya pahit sekali."