SEBELUM MATA ANGIN TERJADI

Ni Made Juni Artami
Chapter #34

Bab 33 — Lebar Lipatan

"Melipat kebohongan tentang ribuan mil bentang bumi pada selembar kertas, hanya demi memanjakan dahaga ini"



Langkah Kasapi menyeret bayang-bayangnya sendiri menjauhi pohon tua itu. Aspal jalanan masih menyimpan sisa lengas hujan sore, memantulkan pendar jingga lampu jalan yang menyala satu per satu. Jalur ini pernah riuh oleh bunyi gesekan sol sepatu, tawa sumbang yang saling menyela, dan denting kaleng minuman ringan yang ditendang bergantian. Kini, ruang di antara deretan toko kelontong yang tutup hanya diisi desis angin dingin dan raung samar mesin sepeda motor dari kejauhan.

Kakinya berhenti di hadapan lembaran besi dengan cat hijau tua yang mengelupas di beberapa sudut. Pagar rumah Josua.

Tangannya terangkat. Ujung jarinya melayang dua senti dari tombol bel, tertahan oleh jeda yang tiba-tiba membeku. Ada bau abu gosok dan tumisan bawang yang tercium dari balik ventilasi—aroma yang dulu sanggup ia kenali tanpa perlu menatap nomor rumah. Namun malam ini, engsel pintu, lekuk teras, hingga jejak tapak ban mobil di garasi terasa berjarak, seperti benda-benda dalam ruang pameran museum yang dilarang disentuh.

Ketukan pertamanya jatuh pelan. Sekali. Dua kali. Kayu pintu berderit, menyerap bunyi itu tanpa gema.

Selang belasan detik, selot pintu bergeser. Seorang anak laki-laki berkaus oblong kusam mengintip dari celah pintu yang terbuka separuh.

"Iya?"

Kasapi menggeser tumpuan berat badannya. "Josua ada?"

Anak itu memutar tubuhnya ke dalam kegelapan lorong rumah. "Kak Josua!"

Derap langkah yang familier memukul ubin. Seseorang muncul di batas pendar lampu teras. Josua. Belahan rambutnya tak lagi sama. Bahunya sedikit lebih lebar, dan garis di sekitar rahangnya menegaskannya sebagai seseorang yang telah terbiasa mengambil keputusan sendiri. Ada sesuatu yang meredup di balik kelopak matanya—bukan amarah, melainkan lelah yang telah mengendap menjadi kerak.

Pandangan mereka bertumbukan dalam keremangan.

Dulu, keheningan di antara mereka selalu dibanting oleh celetukan kasar atau dorongan bahu. Malam ini, jeda itu jatuh seperti bongkahan semen basah—berat dan sukar digeser.

"Pi."

Nama itu keluar dari mulut Josua seperti embusan napas pendek. Panggilan tunggal yang menghantam kerongkongan Kasapi, kering dan menyengat.

"Hai."

Josua tak langsung bergeser. Matanya menyapu seragam sekolah yang melorot di bahu Kasapi, lipatan kotor di pinggir celana, serta sepasang mata yang kehilangan fokus. "Lo benar-benar pulang."

Kasapi menatap garis semen di sela ubin teras. "Iya."

Josua menggeser daun pintu lebih lebar, memberikan ruang sempit bagi angin malam dan Kasapi untuk masuk. "Masuk."

Di dalam, udara menyimpan bau kayu jati lama dan kapus barus. Rak buku masih berdiri di sudut yang sama, menampung jajaran komik berdebu dan deretan kaset tape yang pita magnetiknya mulai mengendur. Di atas meja jati kecil, dua cangkir teh manis mengeluarkan uap tipis. Suara dentang jam dinding kayu melingkupi ruang tamu, teratur dan tak tergeser oleh presensi siapa pun.

"Gue dengar dari guru," ujar Josua, tangannya melingkari dinding gelas teh yang panas.

Kasapi mengangguk tipis. "Soal gue kembali?"

"Soal lo yang mendadak muncul di sekolah." Josua menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Busa sofa itu melesak dengan bunyi kain bergesek. "Kenapa nggak ada kabar sama sekali?"

Pertanyaan itu meluncur tanpa nada tinggi, justru dinginnya yang membuat dada Kasapi terasa teremas. Bagaimana ia harus menjelaskan lintasan waktu yang terbelah? Tentang tanah lain yang menyembuhkan lukanya sembari mengikis ingatan tempat asalnya? Tentang saat ia kembali menyadari bahwa orang-orang yang meninggalkannya sebenarnya tak pernah beranjak, melainkan dirinyalah yang melangkah terlalu jauh ke dalam bayangan?

"Gue..." Kasapi menatap uap teh yang buyar disapu angin jendela. "Gue nggak tahu."

Josua terkekeh pendek. Senyum tipis mengukir sudut bibirnya, jenis senyum yang biasa dipakai untuk menutupi rasa lapar atau kantuk yang melampaui batas. "Nggak tahu."

Pria di hadapannya itu menarik napas panjang melalui hidung, mendengus pelan. "Setahun, Pi. Setahun penuh."

Keheningan kembali merayap. Jam dinding memukul angka delapan.

"Awalnya kami pikir lo cuma ngandok di percetakan atau sembunyi di rumah kakek lo," lanjut Josua. Tangannya memainkan pemantik api di atas meja, memutarnya berulang kali. Klik. Klik. "Tapi waktu minggu ketiga kamu nggak kelihatan di sekolah, kami mulai jalan."

Kasapi mendongak. "Jalan?"

"Tanya orang-orang di pasar. Datang ke percetakan malam-malam. Ngetuk pintu rumahmu sampai tetangga keluar." Josua menghentikan putaran pemantik. Logamnya berdenting menghantam kaca meja. "Pak Hendro sampai harus bongkar mesin cetak tua di belakang cuma buat memastikan kamu nggak tertidur di sela tumpukan kertas plano."

Aroma tinta minyak dan minyak mesin bekas mendadak menyeruak di indra penciuman Kasapi, tajam dan pekat. Suara derit sabut mesin pres, bau kayu lapuk, wujud Pak Hendro yang membungkuk di atas meja pemotong—segalanya timbul sebentar di benaknya sebelum tenggelam kembali seperti minyak di permukaan air.

"Kenapa masih dicari?" suara Kasapi nyaris tenggelam oleh deru mobil di jalan raya.

Josua menatapnya lurus. Ada denyut kecil di otot pipinya. "Karena lo ada di sana, Pi. Dulu."

Lihat selengkapnya