"Setiap teguk tidak perlu dijelaskan dengan rasa mungkin saja bisa dengan rupa"
Jari telunjuk Kasapi berhenti di atas rim kertas putih berserat kasar. Tekstur semen dingin di bawah mejanya yang dulu memantulkan dengung angin sore, kini digantikan oleh derit halus serat selulosa saat jemarinya menggeser halaman.
Sebuah buku dengan nama kusam di bagian tengah sampulnya tergeletak di samping tempat tinta.
Sebelah kirinya terangkat sedikit, terganjal oleh retakan kayu meja yang memancar dari satu titik paku tua. Paku yang tak pernah dicabut.
"Di depan abis," kata sebuah suara dari balik tirai toko.
Langkah kaki Pak Hendro menyeret debu lantai kayu. Pria tua itu tidak lagi membawa lap basah di bahunya. Ia berhenti di dekat rak penyangga kertas, menyapukan ujung tangannya yang kaku ke sudut kardus penyimpan lem cetak. Noda hitam tinta percetakan mengendap permanen di lipatan kulit ibu jarinya, seperti urat kayu yang terbakar.
"Bawa berapa hari ini?" tanya Pak Hendro. Matanya menatap lurus ke tumpukan buku tanpa menyentuh satu pun dari sampulnya.
Kasapi tidak mengangkat kepala dari tulisan di tangannya. "Dua puluh."
"Kurang." Pak Hendro berbalik, membelakangi mesin potong kertas yang mesinnya menyala konstan, menyebarkan bau oli panas dan asam kertas basah. "Nanti sore orang gudang datang lagi. Jangan taruh di situ, kena serbuk potong."
Kasapi menggeser tumpukan itu tiga senti ke kanan. Ujung jarinya meninggalkan jejak minyak tipis di atas kertas pembungkus cokelat.
Udara di bawah pohon mahoni tidak lagi membawa bau getah basah seperti sepuluh tahun lalu. Kulit batangnya mengelupas di beberapa tempat, menyisakan daging kayu kuning keabu-abuan yang dipenuhi semut hitam.
Josua berdiri membungkuk dengan kedua tangan menekan lututnya. Kaus hitamnya berdebu di bagian pinggang.
"Lama," katanya saat bayangan Kasapi menyentuh kerikil di bawah kakinya.
Kasapi berhenti tiga langkah di depan akar yang mencuat. "Macet di pertigaan."
Josua tidak mendongak. Tangannya terulur menggeser sebutir batu kecil memakai ujung sepatunya yang terkelupas. "Mobil terus."
Razan duduk di atas dahan rendah, matanya terlindung di balik lensa kamera yang tak lagi ia kalungkan di leher, melainkan ia genggam ketat di telapak tangannya. Denting kait besi kameranya beradu pelan dengan kancing kemejanya setiap kali ia bernapas.