"Belajarlah mengisap setiap racun tanpa perlu menelan"
Sore mengetuk kosen kayu tanpa mengetuk. Udara tidak mendadak jingga; ia hanya mengendapkan sisa lengas siang, pelan-pelan menarik garis bayangan di sepanjang ubin kapur. Debu-debu melayang dalam lajur cahaya yang menembus kisi-kisi—kecil, berputar lambat seperti serbuk gergaji yang kehilangan gravitasi.
Di ujung meja teak tua, jarum jam dinding berdetik dengan bunyi yang melunak oleh usia.
Kasapi tidak memindahkan tangannya dari atas kertas. Urat-urat di punggung tangannya kini menimbul kaku seperti akar pohon di musim kering, memeta bekas gesekan sudut meja, noda tinta yang meresap ke pori-pori kulit, dan kapalan di ruas jari tengahnya. Ia melirik pensil pendek di sebelah jemarinya. Batang kayu itu melingkar kusam, goresannya tak lagi setajam sepuluh tahun lalu, tetapi matanya tetap menjejak kertas tanpa terburu-buru.
Pintu depan berdenting pelan ketika dorongan angin menggoyang engselnya yang aus. Seorang anak laki-laki berdiri di sana, menenteng buku bergambar berkelempar kain yang sudutnya mulai mengelupas.
"Om."
Kasapi tidak langsung menegakkan punggungnya. Ia menyelesaikan satu sapuan garis lurus pada lembaran di hadapannya, baru menggeser tumpuan bahu. "Buku geografi yang kemarin?"
Anak itu melangkah masuk tanpa melepas sandal karetnya, membuat bunyi plak-plak yang tumpul di ubin. Matanya tidak tertuju pada tumpukan kertas di tengah meja, melainkan melayang ke sudut paling kanan, tempat sebuah cangkir porselen bersandar.
Permukaannya tak lagi memantulkan bayangan plafon. Ada gurat retakan membujur dari bibir cangkir hingga ke pangkal alasnya—garis kapiler cokelat tipis yang menangkap debu kecil. Warna enamelnya yang dulu licin kini kusam oleh gesekan kain lap yang tak terhitung jumlahnya.
Anak itu menunjuk dengan ujung jempolnya. "Cangkir itu retak."
Kasapi melirik wadah porselen tersebut. Matanya menyusuri guratan cokelat yang membelah permukaan luarnya. "Iya."
"Kenapa tidak minta Pak Hendro ganti pelat porselennya?" Anak itu menggeser posisi berdirinya, mengetuk-etuk pinggiran meja dengan buku gambarnya. "Atau dibuang saja sekalian? Kak Razan kemarin punya cangkir plastik merah di studionya, tidak bakal pecah kalau jatuh."
Kasapi meraih porselen itu. Dinginnya porcelain menyengat ujung jarinya—bukan dingin es, melainkan dingin batu yang ditinggalkan di dalam kamar tertutup. Tekstur retakannya kasar di bawah kapalan ibu jarinya, seperti bekas parut luka lama yang sudah menutup rapat namun menolak rata dengan kulit sekitarnya.
"Razan bilang begitu?" tanya Kasapi datar.