Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #1

Kota Yang Menelan Mimpi

Kereta terakhir baru saja meninggalkan stasiun ketika Lintang menutup rapat jaket lusuh yang dikenakannya. Angin malam berembus membawa aroma hujan dan asap kendaraan. Di trotoar yang mulai lengang, ia menggenggam tangan seorang anak kecil yang terus menguap menahan kantuk.

"Apa kita sudah sampai rumah, Bu?" tanya anak itu.

Lintang tersenyum.

"Hampir."

Padahal ia sendiri belum tahu malam itu akan tidur di mana.

Sejak lima tahun terakhir, kata rumah selalu berubah alamat. Kadang sebuah kamar kos dengan dinding lembap. Kadang kontrakan kecil di gang sempit yang atapnya bocor saat hujan. Kadang hanya sebuah kamar yang dipinjamkan teman selama beberapa minggu.

Tidak ada tempat yang benar-benar menetap.

Namun bagi Lintang, selama masih ada tempat untuk membaringkan anaknya dengan aman, itulah rumah.

Pukul lima pagi ia sudah bangun.

Air di kamar mandi bersama masih dingin menusuk kulit. Ia mencuci wajah, menanak nasi dengan beras sisa semalam, lalu menggoreng sebutir telur yang dibagi menjadi beberapa bagian.

Anaknya mendapatkan bagian terbesar.

Lintang hanya memakan nasi dengan kecap.

Ia sudah terbiasa.

Rasa lapar bukan lagi musuh.

Musuh yang sebenarnya adalah rasa putus asa.

Selesai menyiapkan sarapan, ia membuka koper hitam yang selalu dibawanya ke mana-mana.

Di dalamnya tersusun rapi kuas rias, foundation, bedak, lipstik, bulu mata palsu, dan berbagai perlengkapan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil bekerja.

Koper itu bukan sekadar alat kerja.

Koper itu adalah harapan.

Hari itu ia mendapat panggilan merias seorang wisudawati.

Bayarannya tidak seberapa, tetapi cukup untuk membeli susu, beras, dan membayar ongkos transportasi.

Lihat selengkapnya