Pukul empat pagi.
Alarm ponsel berbunyi pelan.
Lintang langsung terbangun sebelum suara itu sempat membangunkan anaknya yang masih tertidur di samping dinding kamar.
Ia mematikan alarm, lalu duduk beberapa saat.
Tubuhnya terasa pegal.
Semalam ia baru selesai membersihkan perlengkapan rias pukul satu dini hari setelah pulang dari merias acara lamaran.
Honor yang diterima sebenarnya lumayan.
Tetapi sebagian besar langsung habis untuk membayar tunggakan kos.
Lintang membuka dompetnya.
Beberapa lembar uang lusuh terselip di dalamnya.
Ia menghitung perlahan.
"Masih cukup untuk hari ini."
Kalimat itu lebih terdengar seperti doa daripada kepastian.
Hari itu ia mendapat panggilan dari seorang pelanggan lama.
"Mbak Lintang, besok bisa merias akad nikah adik saya?"
Lintang hampir menangis karena lega.
"Insyaallah bisa, Kak."
"Datang jam lima pagi ya."
"Bisa."
Telepon ditutup.
Ia memejamkan mata.
Satu pekerjaan lagi berarti beberapa hari ke depan mereka bisa makan lebih tenang.
Siang harinya, seorang teman lama menghubunginya.
"Lintang, aku lagi butuh orang bantu di butik."
"Kerjanya apa?"
"Semua."
Lintang tertawa kecil.
"Semua itu apa saja?"
"Ya... bersih-bersih, jaga toko, angkat barang, kadang masak juga."
"Jam kerjanya?"
"Pokoknya ikut aku."
Lintang diam.
Temannya kembali berbicara.
"Nanti kamu tinggal di lantai atas saja. Daripada bayar kos."
Kalimat terakhir itu terdengar seperti pertolongan.
Tanpa banyak berpikir, Lintang menerimanya.
Ia berharap hidupnya sedikit lebih ringan.
Hari pertama bekerja.