Lintang keluar dari butik itu tepat ketika azan Subuh mulai terdengar dari masjid di ujung jalan.
Tas ransel tua berada di pundaknya.
Di tangan kanan, ia membawa koper hitam berisi perlengkapan rias yang beratnya hampir sepuluh kilogram.
Tidak ada yang mengantarnya.
Tidak ada ucapan terima kasih.
Tidak ada pula permintaan maaf.
Gerbang besi ditutup dari dalam, seolah-olah ia tidak pernah menjadi bagian dari tempat itu.
Lintang berdiri beberapa detik di trotoar.
Langit masih gelap.
Udara dingin menusuk hingga ke tulang.
Ia menarik napas panjang.
"Aku masih punya dua tangan."
Kalimat itu meluncur pelan dari bibirnya.
"Aku masih bisa bekerja."
Ia melangkah.
Kos baru yang ditemukannya berada di lantai tiga sebuah bangunan tua.
Tangga menuju kamar sempit itu curam dan licin. Dindingnya dipenuhi bekas rembesan air hujan. Cat putih yang dulu mungkin pernah bersih kini mengelupas di sana-sini.
Pemilik kos menyerahkan sebuah kunci kecil.
"Kamar paling ujung."
Lintang mengangguk.
Kamar itu hanya cukup untuk sebuah kasur lipat, lemari plastik, dan meja kecil.
Jendelanya menghadap tembok bangunan sebelah.
Tidak ada angin yang masuk.
Tetapi Lintang tersenyum.
"Setidaknya malam ini aku tahu akan tidur di mana."
Hari-hari berikutnya ia kembali menghubungi nomor-nomor lama.
"Halo, Kak. Ini Lintang MUA. Kalau masih membutuhkan jasa rias untuk wisuda atau lamaran, saya siap membantu."
Sebagian tidak membalas.