Jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit ketika Lintang sudah berdiri di depan cermin kecil yang retaknya membelah hampir separuh permukaan.
Ia mengikat rambutnya menjadi sanggul sederhana.
Bukan karena ingin terlihat cantik.
Tetapi karena seorang perias harus datang dengan wajah yang rapi.
Ia percaya, orang akan mempercayakan wajahnya kepada seseorang yang mampu merawat dirinya sendiri.
Meski sering kali, setelah merias orang lain hingga tampak sempurna, ia pulang dengan wajah penuh lelah.
Hari itu ia mendapat panggilan merias calon pengantin.
Lokasinya cukup jauh.
Ia harus naik dua kali angkutan kota, lalu berjalan kaki hampir satu kilometer karena jalan menuju rumah pelanggan terlalu sempit untuk dilalui kendaraan.
Koper hitam di tangannya terasa semakin berat.
Namun ia sudah terbiasa.
Yang paling berat bukan koper itu.
Melainkan pikiran tentang tagihan listrik, uang sekolah, dan biaya hidup yang terus mengejar.
Rumah pelanggan cukup besar.
Di halaman sudah berdiri tenda putih.
Musik terdengar pelan.
Beberapa perempuan sibuk membawa baki berisi bunga dan makanan.
"Alhamdulillah Mbak sudah datang."
Seorang perempuan paruh baya menyambutnya ramah.
"Kami sempat khawatir karena hujan."
Lintang tersenyum.
"Kalau sudah janji, saya usahakan datang."
Kalimat itu sederhana.
Tetapi baginya, menjaga kepercayaan adalah modal paling mahal.
Di kota sebesar ini, nama baik bisa membuka banyak pintu.
Sebaliknya, satu kesalahan kecil bisa menutup semuanya.
Calon pengantin bernama Rania.
Usianya baru dua puluh tiga tahun.
Tangannya dingin karena gugup.
"Aku jelek ya, Mbak?"
Lintang tertawa pelan.
"Tidak ada perempuan yang jelek."