Suara lonceng kecil berbunyi ketika Lintang mendorong pintu sebuah salon sederhana di sudut Jalan Cendana.
Salon itu tidak besar.
Hanya terdiri atas tiga kursi rias, dua cermin tinggi dengan lampu-lampu bulat mengelilinginya, serta aroma sampo dan hairspray yang bercampur menjadi satu.
Lintang datang bukan sebagai pelanggan.
Ia hanya ingin membeli spons rias yang lebih murah daripada di toko kosmetik langganannya.
"Silakan masuk."
Suara perempuan itu lembut.
Lintang menoleh.
Seorang perempuan berusia sekitar akhir tiga puluhan berdiri di belakang meja kasir. Rambutnya dipotong sebahu, wajahnya hampir tanpa riasan, tetapi senyumnya hangat.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau beli beauty sponge, Bu."
Perempuan itu tertawa kecil.
"Kalau di sini jangan panggil Bu. Aku belum setua itu."
Lintang ikut tersenyum.
"Maaf..."
"Panggil saja Nadia."
Nama itu terdengar sederhana.
Namun Lintang belum tahu bahwa pertemuan singkat pagi itu akan mengubah banyak hal dalam hidupnya.
"Jadi kamu MUA?"
Nadia memperhatikan koper hitam yang dibawa Lintang.
"Iya... freelance."
"Sudah berapa lama?"
"Hampir lima tahun."
"Lihat portofoliomu."
Lintang sedikit gugup.
Ia menyerahkan ponselnya.
Isinya hanya foto-foto hasil riasan yang diambil seadanya menggunakan kamera murah.
Nadia memperhatikan satu demi satu.
Tidak terburu-buru.
Sesekali memperbesar gambar.
Sesekali mengangguk pelan.
"Teknikmu bagus."
Lintang terkejut.
"Benarkah?"
"Iya."
"Tapi fotonya jelek."
Lintang tertawa kecil.
"Memang."
"Klien tidak hanya membeli hasil riasan."