Pukul enam pagi, salon Nadia belum buka.
Lampu-lampu di depan cermin masih padam ketika Lintang datang membawa koper hitamnya.
Nadia sudah lebih dulu berada di sana.
Ia sedang menyapu lantai.
"Kamu datang terlalu pagi."
Lintang tersenyum kecil.
"Aku takut terlambat."
"Kalau begitu bantu aku bikin kopi."
Lintang tertawa.
"Baik."
Mereka bekerja dalam diam.
Suara air mendidih, aroma kopi hitam, dan sinar matahari yang mulai masuk melalui pintu kaca menciptakan suasana yang hangat.
"Lintang."
"Iya?"
"Kamu pernah berpikir membuka studio sendiri?"
Pertanyaan itu membuat Lintang berhenti menuang air.
"Pernah."
"Lalu?"
"Aku takut."
Nadia mengangguk pelan.
"Semua orang takut."
"Bedanya, ada yang tetap berjalan."
Menjelang siang, seorang perempuan datang ke salon.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Pakaiannya sederhana, tetapi anggun.
Ia memperkenalkan diri sebagai Diah.
"Aku sedang mencari MUA untuk acara penghargaan perusahaan minggu depan."
Nadia tersenyum.
"Coba lihat hasil kerja Lintang."
Lintang langsung gugup.
Diah memperhatikan foto-foto portofolionya.
Lalu berkata,
"Bisa tes makeup sekarang?"
"Tentu."
Selama hampir satu jam, Lintang bekerja dengan tenang.