Pukul lima lewat tiga puluh.
Jalan Merdeka mulai dipenuhi kendaraan.
Pedagang bubur membuka gerobaknya.
Anak-anak sekolah berjalan sambil mengantuk.
Sementara Lintang duduk di dalam angkot biru yang melaju pelan menuju sebuah hotel.
Hari itu ia mendapat pekerjaan merias tiga orang bridesmaid.
Honor yang diterimanya cukup besar dibanding pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.
Tetapi yang membuatnya gugup bukan uangnya.
Melainkan nama hotel itu.
Hotel Arunika.
Salah satu hotel paling mewah di kota.
Ia belum pernah bekerja di tempat seperti itu.
Sesampainya di ballroom, seorang panitia menghampirinya.
"Mbak Lintang?"
"Iya."
"Silakan ikut saya."
Mereka melewati lorong panjang berkarpet tebal.
Lampu gantung kristal memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.
Lintang sempat melihat bayangannya sendiri di dinding kaca.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana.
Tas rias hitam di tangan kanannya mulai tampak kusam dibanding kemewahan hotel itu.
Untuk sesaat ia merasa tidak pantas berada di sana.
Lalu ia teringat perkataan Nadia.
"Yang membuatmu layak berada di sebuah ruangan bukan pakaianmu. Tetapi kemampuanmu"
Lintang menarik napas panjang.
Ia melangkah masuk.
Ruang rias dipenuhi percakapan.
Ada beberapa MUA lain.
Perlengkapan mereka terlihat jauh lebih mahal.
Kotak makeup mengilap.
Lampu portabel.
Kuas dengan merek terkenal.
Seorang perempuan berambut pendek melirik koper hitam milik Lintang.
"Masih pakai koper begitu?"
Lintang hanya tersenyum.
"Masih nyaman dipakai."
Perempuan itu terkekeh.
"Lucu juga."