Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #8

Rumah Nomor Tujuh

Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menghitung waktu.

Ada yang menghitung dari ulang tahun ke ulang tahun.

Ada yang menghitung dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya.

Lintang menghitung hidupnya dari alamat yang pernah ia tinggali.

Rumah nomor satu.

Kamar kos dengan jendela menghadap tembok.

Rumah nomor dua.

Kontrakan yang selalu kebanjiran.

Rumah nomor tiga.

Loteng sempit di atas toko kelontong.

Begitu seterusnya...

Hingga hari itu.

Pemilik kos menyerahkan sebuah kunci kecil dengan gantungan berbentuk bunga matahari.

"Mulai hari ini kamar itu milikmu selama kamu masih ingin tinggal."

Lintang menerima kunci itu dengan kedua tangan.

Rumah nomor tujuh.

Tidak luas.

Hanya satu kamar, kamar mandi kecil, dapur sederhana, dan sebuah jendela yang menghadap pohon flamboyan tua.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang singgah.

Hari pertama di tempat baru dihabiskan dengan membersihkan ruangan.

Ia mengepel lantai berkali-kali hingga keramik kusam mulai memantulkan cahaya.

Gorden bekas yang dibelinya di pasar loak dicuci lalu dipasang.

Sebuah meja lipat diletakkan di dekat jendela.

Di atasnya berdiri cermin bundar yang selama ini selalu dibungkus kain agar tidak pecah saat berpindah tempat.

Lintang memandang pantulan dirinya.

"Selamat datang," gumamnya kepada bayangan di cermin.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat matanya terasa hangat.

Sore harinya Nadia datang membawa dua kantong belanja.

"Kado pindahan."

Lintang membukanya.

Isinya beberapa gelas, teko kecil, rak serbaguna, dan tanaman lidah mertua dalam pot putih.

"Nggak usah repot-repot, Kak."

Nadia menggeleng.

"Rumah itu bukan soal besar atau kecil."

"Lalu?"

"Soal ada kehidupan di dalamnya."

Mereka tertawa.

Lihat selengkapnya