Udara pagi masih basah oleh embun ketika Lintang berdiri di depan gedung Balai Kreatif Nusantara.
Di halaman depan, puluhan spanduk berwarna putih dan emas berkibar diterpa angin.
FESTIVAL PENGANTIN NUSANTARA
Kompetisi Makeup Artist & Bridal Showcase
Lintang membaca tulisan itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Aku benar-benar datang."
Di sampingnya, Nadia tersenyum sambil menyodorkan segelas kopi hangat.
"Masih bisa pulang kalau takut."
Lintang terkekeh pelan.
"Kalau pulang sekarang, nanti aku menyesal lebih lama."
"Nah, itu baru muridku."
Lobi gedung dipenuhi peserta dari berbagai kota.
Mereka membawa koper rias yang mengilap.
Ada yang mengenakan seragam tim lengkap.
Ada yang datang bersama fotografer pribadi.
Ada pula yang sibuk melakukan siaran langsung di media sosial.
Lintang menatap koper hitamnya yang sudah mulai pudar di beberapa sudut.
Ia mengusap gagangnya perlahan.
"Temani aku sekali lagi."
Seolah mengerti, koper itu tetap diam, setia seperti biasanya.
Nomor peserta Lintang adalah 27.
Tema kompetisi tahun itu adalah "Pesona Nusantara Modern."
Setiap peserta harus merias seorang model dengan mengangkat keindahan budaya Indonesia tanpa kehilangan sentuhan modern.
Lintang menatap papan inspirasi yang ditempel di ruang persiapan.
Di sana terpampang puluhan sketsa gaun, aksesori, dan tata rias.
Semuanya indah.
Namun pikirannya justru melayang pada wajah-wajah perempuan yang pernah ia rias.
Seorang ibu yang ingin tampil cantik di wisuda anaknya.
Seorang guru yang gugup menjelang pelantikannya.
Seorang pengantin yang menangis haru ketika melihat bayangannya di cermin.
Ia sadar, kecantikan bukan sekadar warna.
Kecantikan adalah rasa percaya diri.
Dan itulah yang ingin ia tampilkan.
"Peserta dua puluh tujuh, silakan mulai!"
Hitungan waktu dimulai.
Sembilan puluh menit.
Lintang menarik napas panjang.
Tangannya bergerak mantap.
Foundation.
Concealer.
Bedak.