Sudah tiga hari kartu nama itu tersimpan di dalam dompet Lintang.
Ia belum menghubungi siapa pun.
Setiap kali membuka dompet untuk membayar ongkos bus atau membeli makan siang, matanya selalu tertuju pada kartu berwarna putih gading bertuliskan:
R. Mahendra
Akademi Rupa Cakrawala
"Kalau suatu hari Anda ingin mengajar, hubungi saya."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Mengajar?
Ia bahkan masih merasa dirinya sedang belajar.
Sore itu, Nadia sedang menyusun botol-botol skincare di salon ketika Lintang datang.
Tanpa berkata apa-apa, Lintang meletakkan kartu nama itu di meja.
Nadia membacanya sekilas.
"Lalu?"
"Aku belum menelepon."
"Kenapa?"
Lintang menarik napas.
"Aku takut mereka salah memilih orang."
Nadia tersenyum tipis.
"Bukan mereka yang salah."
"Lalu?"
"Kamulah yang masih melihat dirimu dengan ukuran lima tahun yang lalu."
Lintang terdiam.
Ia tahu Nadia benar.
Sering kali, luka masa lalu membuat seseorang merasa tidak pantas menerima kesempatan baru.
Malam itu, setelah membereskan seluruh perlengkapan rias, Lintang akhirnya memberanikan diri menekan nomor yang tertera di kartu.
Telepon berdering dua kali.
"Halo."
Suara laki-laki di seberang terdengar tenang.
"Selamat malam... saya Lintang."
"Tentu, saya sudah menunggu telepon Anda."
Lintang sedikit terkejut.
"Benarkah?"
"Pak Mahendra sudah bercerita tentang Anda."
Jantungnya kembali berdegup.
"Kami ingin mengundang Anda datang besok pagi."
"Bukan untuk wawancara."
"Lalu?"
"Untuk berbincang."
Akademi Rupa Cakrawala berdiri di kawasan yang teduh.
Halamannya dipenuhi pohon tabebuya yang sedang berbunga.