Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #12

Nilai yang Tak Terlihat

Seminggu setelah kelas pertamanya, nama Lintang mulai akrab di telinga para mahasiswa Akademi Rupa Cakrawala.

Bukan karena ia pengajar yang paling berpengalaman.

Melainkan karena caranya mengajar berbeda.

Ia tidak pernah memulai kelas dengan membuka kotak makeup.

Ia selalu memulai dengan sebuah pertanyaan.

"Bagaimana kalian ingin diingat pelanggan?"

Hari itu, tak seorang pun langsung menjawab.

Lintang tersenyum.

"Jawaban itu lebih penting daripada teknik contour."

Beberapa mahasiswa tertawa kecil.

Ketegangan di ruang praktik pun mencair.

Menjelang akhir kelas, Pak Mahendra datang membawa sebuah pengumuman.

"Bulan depan akan diadakan Kompetisi Kreasi Pengantin Antarakademi."

Ruangan langsung riuh.

Para mahasiswa saling berpandangan.

"Kita akan mengirim dua wakil."

Sorak-sorai memenuhi kelas.

"Pemilihannya berdasarkan karya terbaik minggu ini."

Semangat seluruh mahasiswa langsung berubah.

Tak ada lagi yang datang terlambat.

Tak ada lagi meja yang berantakan.

Semua ingin menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Lintang mengamati perubahan itu sambil tersenyum.

Persaingan memang bisa menjadi tenaga pendorong.

Asalkan tidak menghilangkan rasa saling menghargai.

Selama beberapa hari berikutnya, ruang praktik dipenuhi kesibukan.

Reza berlatih teknik complexion.

Mira mengulang sanggul modern berkali-kali.

Alya bereksperimen dengan perpaduan warna.

Sementara Dinda memilih diam.

Ia datang paling pagi.

Pulang paling akhir.

Bukan karena paling hebat.

Tetapi karena ia tahu dirinya harus mengejar ketertinggalan.

Suatu sore, ketika hampir semua mahasiswa pulang, Lintang mendapati Dinda masih duduk sendiri di depan cermin.

"Kamu belum selesai?"

Dinda menggeleng.

"Aku merasa hasilku selalu biasa saja."

Lintang mengambil kursi di sampingnya.

"Lihat lagi."

Dinda memandangi hasil riasannya.

"Menurutmu apa yang kurang?"

"Entahlah."

Lintang tersenyum.

"Kamu terlalu sibuk mencari kekurangan."

"Padahal pelanggan nanti mencari rasa nyaman."

Dinda menatap wajah Lintang.

Lihat selengkapnya