Hujan turun sejak subuh.
Rintiknya membasahi halaman Akademi Rupa Cakrawala, membuat daun-daun tabebuya bergoyang pelan diterpa angin.
Hari itu bukan hari belajar biasa.
Hari itu adalah hari keberangkatan menuju Kompetisi Kreasi Pengantin Antarakademi.
Dinda dan Reza berdiri di depan bus dengan wajah tegang.
Keduanya mengenakan jaket akademi berwarna biru tua.
Di tangan mereka tergenggam koper rias yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Bukan karena isinya.
Melainkan karena harapan yang ikut mereka bawa.
Lintang menghampiri sambil membawa dua kotak kecil.
"Apa ini, Kak?" tanya Reza.
"Bekal."
Reza membuka kotaknya.
Roti isi, buah, dan sebotol air mineral.
Lintang tersenyum.
"Jangan berkompetisi dengan perut kosong."
Dinda tertawa pelan.
Ketegangan mereka sedikit mencair.
Perjalanan menuju gedung pameran memakan waktu hampir satu jam.
Sepanjang jalan, mahasiswa lain sibuk menghafal urutan kerja.
Reza beberapa kali membuka kembali catatan teknik.
Sementara Dinda hanya memandangi jendela.
Lintang duduk di bangku paling belakang.
Ia tidak memberi banyak nasihat.
Ia percaya, semua yang perlu mereka pelajari sudah mereka pelajari.
Hari ini, mereka hanya perlu percaya pada diri sendiri.
Gedung pameran dipenuhi peserta dari berbagai akademi.
Ruang persiapan terasa riuh.
Suara hair dryer bersahutan.
Aroma hairspray memenuhi udara.
Para peserta sibuk menata perlengkapan masing-masing.
Di salah satu sudut, seorang peserta tak sengaja menjatuhkan kotak aksesori.
Manik-manik dan jepit rambut berhamburan ke lantai.
Beberapa orang hanya melirik sekilas.
Lintang berjongkok dan membantu memungut satu per satu.
Perempuan itu tampak terkejut.
"Terima kasih..."
Lintang hanya tersenyum.
"Semoga berhasil."
Dinda memperhatikan kejadian itu.
"Kak..."
"Iya?"
"Padahal dia lawan kita."
Lintang berdiri sambil menyerahkan kotak itu kembali.
"Dalam kompetisi, kita bersaing lewat karya."
"Bukan lewat kesulitan orang lain."
Kalimat itu diam-diam disimpan Dinda di dalam hati.
Lomba dimulai pukul sembilan.