Hari pertama Lintang bekerja di Aurora Luxe Beauty dimulai dengan aroma kopi dan suara mesin espresso.
Studio itu jauh berbeda dari tempat-tempat yang pernah ia datangi.
Dindingnya didominasi warna krem dan putih.
Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya hangat.
Di sudut ruangan, deretan cermin besar memantulkan kesibukan para perias yang bekerja tanpa henti.
Di atas meja resepsionis terpampang sebuah kalimat sederhana.
"Kesan pertama dimulai sebelum pelanggan duduk di kursi."
Lintang membacanya pelan.
Ia tersenyum.
Kalimat itu mengingatkannya pada pelajaran Pak Mahendra.
"Selamat datang."
Evelyn menghampirinya.
"Hari ini kamu tidak langsung menangani klien."
Lintang mengangguk.
"Kamu akan mengenal tim lebih dulu."
Satu per satu anggota tim diperkenalkan.
Ada Naya, ahli tata rambut.
Bima, fotografer studio.
Salsa, penata busana.
Dan seorang perempuan yang berdiri paling ujung.
Namanya Serena.
Creative Makeup Director sebelum posisi itu ditawarkan kepada Lintang.
Serena mengulurkan tangan.
"Selamat bergabung."
Senyumnya ramah.
Namun tatapannya sulit ditebak.
Hari-hari pertama berjalan lancar.
Lintang lebih banyak mengamati.
Ia mencatat cara tim berkomunikasi dengan klien.
Cara mereka menyusun jadwal.
Cara mereka menangani perubahan mendadak.
Ia menyadari bahwa studio sebesar ini bukan hanya tentang kemampuan merias.
Tetapi tentang kerja sama.
Suatu siang, seorang calon pengantin datang bersama ibunya.
Mereka tampak kebingungan memilih konsep riasan.
Beberapa contoh telah ditunjukkan.
Namun belum ada yang benar-benar cocok.
Lintang meminta izin mendekat.
"Boleh saya mencoba sesuatu?"
Perempuan itu mengangguk.
Alih-alih langsung mengambil kuas, Lintang bertanya,
"Boleh saya tahu, gaun yang akan dipakai seperti apa?"
Mereka mulai bercerita.
Tentang warna dekorasi.
Tentang lokasi akad.
Tentang kebiasaan calon pengantin yang tidak suka riasan terlalu tebal.
Lintang mendengarkan tanpa memotong.
Barulah ia menggambar sketsa sederhana.
Sang ibu menatap sketsa itu cukup lama.
"Lho..."
"Apa, Bu?"