Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #16

Surat yang Tidak Pernah Terlambat

Pukul sembilan malam.

Lampu-lampu Aurora Luxe Beauty satu per satu mulai dipadamkan.

Lintang menjadi orang terakhir yang keluar dari studio.

Ia mengunci koper hitamnya, menyampirkan tas di bahu, lalu berjalan menuju halte bus.

Malam itu udara kota terasa lebih dingin dari biasanya.

Di dalam bus yang hampir kosong, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

"Bu, hari ini Bintang dapat nilai seratus untuk pelajaran Bahasa Indonesia."

Lintang tersenyum tanpa sadar.

Di bawah pesan itu ada sebuah foto.

Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun berdiri sambil memegang selembar kertas bergambar bintang emas. Senyumnya lebar, memperlihatkan dua gigi depan yang belum tumbuh sempurna.

Foto itu dikirim oleh pasangan yang selama bertahun-tahun merawat Bintang.

Mereka bukan keluarga sedarah.

Namun mereka telah menjadi rumah yang hangat bagi anak itu.

Lintang mengetik balasan.

"Hebat sekali. Sampaikan peluk dan selamat dari Ibu."

Beberapa detik kemudian balasan datang.

"Kenapa Ibu tidak menelepon langsung?"

Jari-jari Lintang berhenti di atas layar.

Ia menghela napas panjang.

Bukan karena tidak ingin.

Melainkan karena mereka telah sepakat menjaga rutinitas Bintang tetap tenang. Anak itu mengenal Lintang sebagai seseorang yang sangat menyayanginya, tetapi belum memahami seluruh cerita tentang masa kecilnya.

"Besok akhir pekan. Ibu akan menelepon setelah belajar selesai."

Ia menekan tombol kirim.

Sesampainya di rumah nomor tujuh, Lintang membuka laci kecil di dekat tempat tidur.

Di dalamnya tersimpan sebuah kotak kayu.

Kotak itu tidak berisi perhiasan.

Tidak pula uang.

Di dalamnya hanya ada kartu ulang tahun buatan tangan, beberapa foto, dan surat-surat kecil yang ia tulis setiap kali merindukan Bintang.

Lihat selengkapnya