Sabtu pagi selalu menjadi hari yang berbeda bagi Lintang.
Jika hari-hari lain ia berangkat dengan koper hitam berisi perlengkapan kerja, hari Sabtu ia membawa tas kain sederhana berisi buku gambar, beberapa pensil warna, dan sekotak kue kecil.
Tujuannya bukan studio.
Bukan pula akademi.
Melainkan sebuah rumah sederhana di pinggir kota.
Di sanalah Bintang tinggal.
Hari itu adalah akhir pekan pertama dalam dua bulan terakhir ketika jadwal mereka akhirnya bertemu.
Begitu pintu pagar terbuka, seorang anak laki-laki berlari sekencang-kencangnya.
"Ibu!"
Lintang berjongkok, lalu membuka kedua tangannya.
Bintang memeluknya erat.
Pelukan itu tidak lama.
Tidak pula dramatis.
Namun cukup untuk membuat semua rasa lelah yang menumpuk selama berminggu-minggu seolah luruh begitu saja.
"Kamu tambah tinggi."
"Ibu juga bilang begitu waktu video call minggu lalu."
Lintang tertawa.
"Berarti memang benar."
Pasangan yang merawat Bintang menyambut Lintang dengan hangat.
Mereka mempersilakan masuk, menyeduhkan teh, lalu memberi ruang bagi ibu dan anak itu menikmati waktu bersama.
Hubungan mereka dibangun di atas saling percaya.
Lintang bersyukur karena Bintang tumbuh di lingkungan yang penuh kasih.
"Ibu, lihat."
Bintang membuka sebuah map biru.
Di dalamnya tersusun rapi gambar-gambar yang ia buat di sekolah.
Ada gambar rumah.
Ada pohon mangga.
Ada matahari yang tersenyum.
Namun satu gambar membuat Lintang terdiam.
Seorang anak kecil berdiri di tengah.
Di sisi kanan ada sepasang orang dewasa.
Di sisi kiri ada seorang perempuan membawa koper hitam.