Hujan turun sejak dini hari.
Langit kota tertutup awan kelabu ketika Lintang tiba di Aurora Luxe Beauty. Jam dinding baru menunjukkan pukul tujuh, tetapi studio sudah dipenuhi kesibukan. Hari itu mereka akan menangani lima calon pengantin sekaligus.
"Ada perubahan jadwal," ujar Evelyn sambil menyerahkan tablet kepadanya. "Klien utama meminta kamu yang meriasnya."
Lintang mengangguk.
"Baik."
Ia tidak bertanya mengapa.
Baginya, setiap klien adalah amanah yang harus diselesaikan sebaik mungkin.
Menjelang siang, suasana studio semakin ramai.
Fotografer keluar masuk ruang rias.
Penata busana membawa gaun yang baru selesai disetrika.
Di sudut ruangan, Serena sedang membantu seorang pengantin mengenakan aksesori kepala.
Semuanya berjalan sesuai rencana.
Hingga sebuah suara memecah kesibukan.
"Maaf... siapa yang terakhir memegang kotak perhiasan?"
Ruangan mendadak sunyi.
Semua saling berpandangan.
Kotak kecil berlapis beludru itu berisi mahkota dan anting yang akan dikenakan klien utama.
Nilainya tidak murah.
Naya menggeleng.
"Aku tidak melihatnya."
Bima ikut mencari di ruang foto.
Serena membuka laci-laci meja.
Namun kotak itu tidak ditemukan.
Satu jam berlalu.
Pencarian semakin panik.
Klien mulai gelisah.
"Kita tidak mungkin memulai pemotretan tanpa aksesori itu."
Evelyn menarik napas panjang.
"Semua tolong periksa kembali."
Lintang ikut membuka setiap tas dan laci sesuai prosedur yang disepakati bersama.
Tidak ada yang disembunyikan.
Tidak ada yang ditutup-tutupi.
Semua dilakukan terbuka.
Namun keadaan berubah ketika salah seorang staf berkata pelan,
"Terakhir kali aku lihat... kotaknya ada di dekat meja Mbak Lintang."
Kalimat itu melayang di udara.
Tidak keras.
Tetapi cukup membuat semua orang menoleh.
Lintang menatap meja kerjanya.
Kosong.
Ia mengingat-ingat setiap langkah yang dilakukannya sejak pagi.
Tidak ada yang terasa janggal.
Tetapi ingatan manusia tidak selalu sempurna.
Evelyn melangkah mendekat.