Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #19

Mimpi yang Hampir Hilang

Pagi itu, matahari belum sepenuhnya terbit ketika Lintang sudah berdiri di depan sebuah bangunan kecil di ujung jalan Melati.

Bangunan itu tidak mencolok.

Cat temboknya mulai pudar.

Pintu kayunya tampak usang.

Namun jendelanya lebar, menghadap taman kecil yang dipenuhi tanaman pucuk merah.

Lintang membayangkan sebuah papan nama tergantung di atas pintu.

RUMAH CAHAYA

Studio kecil yang selama ini hanya hidup di dalam buku catatannya.

"Bagaimana menurut Mbak?"

Suara agen properti membuyarkan lamunannya.

"Tempat ini baru saja kosong minggu lalu."

Lintang melangkah masuk.

Ruangan itu hanya sekitar empat puluh meter persegi.

Cukup untuk dua meja rias.

Satu ruang tunggu.

Dan sebuah sudut kecil untuk kelas privat.

Tidak mewah.

Tetapi hangat.

Persis seperti yang selalu ia impikan.

"Aku suka tempat ini."

Malam harinya, Lintang membuka kembali amplop bertuliskan Rumah Cahaya.

Ia menghitung tabungannya satu per satu.

Masih kurang.

Ia tersenyum tipis.

"Sedikit lagi."

Selama hampir dua tahun, setiap menerima honor mengajar atau bayaran dari klien, ia selalu menyisihkan sebagian untuk amplop itu.

Bukan jumlahnya yang membuatnya bangga.

Melainkan kedisiplinan yang mengisinya.

Keesokan paginya, ia kembali menemui agen properti.

"Aku ingin menyewa tempat itu."

Agen tersebut tampak ragu.

"Maaf, Mbak."

"Kenapa?"

"Tadi malam sudah ada yang memberikan uang tanda jadi."

Kalimat itu terasa seperti menghantam dadanya.

Lihat selengkapnya