Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #20

Rumah yang Belum Berdinding

Langit pagi masih diselimuti kabut tipis ketika Lintang tiba di sebuah gedung balai pelatihan milik pemerintah kota.

Di depan pintu masuk telah berdiri belasan perempuan dengan latar belakang yang berbeda.

Ada yang datang membawa bayi.

Ada ibu rumah tangga yang baru pertama kali naik bus sendirian.

Ada pula perempuan muda yang baru saja kehilangan pekerjaan.

Mereka memiliki tujuan yang sama.

Memulai hidup dari awal.

Lintang menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.

Di tangannya hanya ada sebuah koper hitam yang mulai memudar warnanya.

Koper yang telah menemaninya melewati begitu banyak perjalanan.

"Selamat datang, Bu Lintang."

Ketua komunitas, Bu Ratih, menyambutnya dengan hangat.

"Pesertanya ada tiga puluh orang."

Lintang mengangguk.

"Apa mereka sudah pernah belajar makeup?"

Bu Ratih tersenyum.

"Sebagian besar belum."

Lintang kembali memandang ruangan.

Ia teringat dirinya tujuh tahun lalu.

Bingung.

Takut.

Tidak tahu harus memulai dari mana.

Bedanya, dulu tidak ada yang berdiri di depan kelas untuk menyemangatinya.

Hari ini, ia mendapat kesempatan menjadi orang itu.

Kelas dimulai tanpa presentasi.

Tanpa teori panjang.

Lintang justru membagikan secarik kertas kepada setiap peserta.

"Tuliskan satu mimpi yang ingin kalian capai."

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa peserta langsung menulis.

Beberapa hanya memandangi kertas kosong.

Sepuluh menit berlalu.

Lintang mengambil satu per satu kertas itu.

"Ingin menyekolahkan anak."

"Membuka salon kecil di rumah."

"Membayar utang."

"Tidak bergantung lagi pada orang lain."

Tangannya berhenti ketika membaca selembar kertas tanpa nama.

"Aku hanya ingin percaya bahwa hidupku belum selesai."

Lintang menelan ludah.

Kalimat itu terasa sangat dekat.

Seolah ditulis oleh dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu.

Selama beberapa hari pelatihan, Lintang tidak hanya mengajarkan teknik merias.

Ia mengajarkan cara menyusun jadwal.

Lihat selengkapnya