Sudah hampir setahun sejak Lintang menjadi pengajar di Akademi Rupa Cakrawala.
Studio Aurora Luxe Beauty semakin berkembang.
Program pelatihan perempuan yang dipimpinnya juga telah meluluskan dua angkatan.
Namanya mulai dikenal.
Bukan sebagai perias yang sering muncul di media.
Melainkan sebagai perempuan yang selalu bersedia mengajarkan apa yang ia ketahui.
Namun justru ketika hidup mulai terasa tenang, masa lalu perlahan kembali mengetuk pintu.
Pagi itu, Lintang sedang mengajar teknik rias pengantin tradisional.
Di tengah penjelasan, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Apa benar ini Mbak Lintang?"
Ia mengabaikannya.
Pelajaran lebih penting.
Lima menit kemudian, pesan kedua masuk.
"Saya Rina... teman kos Mbak waktu kuliah."
Tangan Lintang berhenti menulis di papan.
Nama itu sudah bertahun-tahun tidak pernah ia dengar.
Nama yang membawa begitu banyak kenangan.
Kenangan tentang kamar kos sempit.
Tentang malam-malam tanpa makan.
Tentang bayi yang sering menangis di tengah malam.
Dan tentang rahasia yang selama ini ia simpan rapat.
Sepulang mengajar, Lintang akhirnya membalas.
"Iya. Ada apa, Rin?"
Tak lama kemudian telepon berdering.
Suara di seberang terdengar ragu.
"Lama sekali ya..."
Lintang tersenyum tipis.
"Hampir delapan tahun."
Rina menarik napas panjang.
"Aku minta maaf."
Lintang terdiam.
"Minta maaf untuk apa?"
"Dulu... aku terlalu banyak diam."
Percakapan itu membawa Lintang kembali ke masa lalu.
Saat ia masih mahasiswa.
Saat harus berpindah dari satu rumah kos ke rumah kos lainnya.
Saat menyembunyikan kehamilan dari hampir semua orang.
Saat bekerja siang dan malam demi membeli susu dan popok.
Dan saat hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa ia telah menjadi seorang ibu.
Rina adalah salah satunya.
Namun setelah lulus, mereka kehilangan kabar.
"Aku menghubungimu karena ada sesuatu."
"Apa?"
"Besok aku ke kotamu."