Sudah beberapa hari sejak pertemuan Lintang dengan Rina.
Buku catatan lama itu kini selalu berada di dalam tasnya.
Sesekali ia membukanya ketika menunggu kelas dimulai atau saat perjalanan pulang.
Bukan untuk meratapi masa lalu.
Melainkan untuk mengingat bahwa perempuan yang sekarang berdiri tegak pernah begitu rapuh.
Sabtu sore itu, Lintang pulang ke kampung.
Sudah hampir enam bulan ia tidak menginap di rumah ibunya.
Pekerjaan yang semakin padat membuat kepulangannya hanya sebatas beberapa jam, lalu kembali lagi ke kota.
Rumah kayu itu masih sama.
Cat dindingnya mulai memudar.
Pohon mangga di halaman sudah semakin rindang.
Ibunya menyambut di depan pintu.
"Kamu kurusan."
Lintang tersenyum.
"Ibu selalu bilang begitu."
Ibunya mengusap pelan pipinya.
"Capek ya?"
Lintang hanya mengangguk.
Ia tidak ingin menambah beban pikiran perempuan yang telah membesarkannya.
Malam itu, seluruh keluarga berkumpul.
Keponakan-keponakan berlarian di ruang tamu.
Tawa memenuhi rumah sederhana itu.
Semua tampak baik-baik saja.
Namun jauh di dalam hati Lintang, ada kegelisahan yang kembali muncul.
Rahasia itu.
Rahasia yang selama bertahun-tahun hanya diketahui oleh segelintir orang.
Tentang empat anak yang lahir jauh sebelum keluarganya mengetahui kenyataan hidup yang ia jalani.
Seusai makan malam, kakaknya duduk di sampingnya di teras.
"Lintang."
"Iya?"
"Kamu bahagia sekarang?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun Lintang membutuhkan waktu cukup lama untuk menjawab.
"Aku sedang belajar bahagia."
Kakaknya tersenyum.
"Itu jawaban yang bagus."
Angin malam bertiup pelan.
Suara jangkrik memenuhi kebun belakang.
"Ada yang ingin Kakak tanyakan."
Lintang menoleh.
"Tapi kalau belum siap, tidak usah dijawab."