Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #23

Luka yang Tidak Pernah Hilang

Hujan turun sejak sore.

Rintik-rintiknya membasahi kaca jendela rumah nomor tujuh.

Lintang duduk di ruang tamu sambil memangku bayi laki-lakinya yang baru saja tertidur. Napas bayi itu teratur, sesekali jemarinya menggenggam ujung jilbab ibunya.

Sudah lama Lintang tidak menikmati malam setenang ini.

Tidak ada jadwal mengajar.

Tidak ada klien.

Tidak ada pelatihan.

Hanya ada dirinya dan suara hujan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Pintu depan terbuka.

Arga masuk dengan wajah letih.

Jas kerjanya masih basah oleh hujan.

"Aku pulang."

Lintang tersenyum.

"Sudah makan?"

Arga menggeleng.

"Belum."

Seperti biasa, Lintang menghangatkan makanan yang telah ia siapkan sejak sore.

Meski mereka telah menikah hampir dua tahun, kebersamaan seperti ini masih terasa asing.

Kesibukan sering mencuri waktu mereka.

Saat makan malam, Arga memperhatikan gelang anyaman biru yang masih melingkar di pergelangan tangan Lintang.

"Gelang itu belum kamu lepas?"

Lintang mengusapnya pelan.

"Hadiah dari Bintang."

Arga tersenyum.

"Dia pasti senang kalau tahu kamu masih memakainya."

Lintang mengangguk.

Namun senyumnya hanya bertahan sesaat.

Arga menyadari perubahan itu.

"Kamu akhir-akhir ini sering melamun."

"Tidak."

"Kamu tidak pandai berbohong."

Lintang menundukkan kepala.

Bukan karena ingin berbohong.

Melainkan karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Setelah bayi dipindahkan ke tempat tidurnya, mereka duduk di teras.

Hujan mulai reda.

Udara malam terasa dingin.

Lihat selengkapnya