Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #24

Semua Air Mata Memiliki Nama

Pagi itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Foto kecil yang ditemukan Arga masih berada di atas meja ruang tamu.

Seorang anak perempuan dengan gaun kuning memegang balon merah. Senyumnya begitu lepas, seolah tidak mengenal beban yang selama ini dipikul ibunya.

Lintang berdiri beberapa langkah dari meja.

Tangannya dingin.

Sudah berkali-kali ia membayangkan hari ini akan datang.

Namun ketika benar-benar tiba, keberaniannya seolah hilang.

Arga menatap istrinya dengan tenang.

Ia tidak mengangkat suara.

Tidak menunjukkan kemarahan.

Justru ketenangan itulah yang membuat Lintang semakin takut.

"Aku tidak akan bertanya lagi."

Kata Arga pelan.

"Tapi aku ingin mendengar ceritamu."

"Bukan sepotong."

"Semuanya."

Lintang menarik napas panjang.

Air matanya mulai jatuh sebelum kata-kata sempat keluar.

"Aku tidak pernah ingin membohongimu."

Arga mengangguk pelan.

"Aku tahu."

"Aku hanya..."

Lintang menutup wajahnya.

"...tidak tahu bagaimana harus mulai."

Arga memindahkan kursinya mendekat.

"Aku di sini."

"Tidak ke mana-mana."

Kalimat sederhana itu perlahan meruntuhkan benteng yang selama bertahun-tahun dibangun Lintang.

"Aku menjadi ibu ketika masih kuliah."

Suara Lintang bergetar.

"Waktu itu usiaku bahkan belum cukup dewasa untuk mengurus diriku sendiri."

"Tapi aku harus mengurus seorang bayi."

Arga mendengarkan tanpa menyela.

"Bintang lahir ketika aku masih tinggal di kamar kos yang bahkan tidak cukup luas untuk meletakkan tempat tidur bayi."

"Aku sering menggendongnya sambil mengerjakan tugas kuliah."

"Kalau dia menangis malam-malam, aku takut penghuni kos lain marah."

Lintang tersenyum pahit.

"Jadi aku membawanya berjalan di lorong sampai tertidur."

Air mata Arga mulai menggenang.

Namun ia tetap diam.

Memberi ruang bagi istrinya untuk bercerita.

"Aku bekerja di mana saja."

"Merias orang."

"Mencuci baju."

"Menjadi pelayan."

"Mengantar pesanan."

"Apa saja."

"Asal anakku bisa minum susu."

Lintang mengusap air matanya.

"Lalu..."

Suaranya semakin lirih.

"...aku melahirkan lagi."

"Bukan sekali."

"Tetapi berkali-kali."

Arga menunduk.

Kini ia mulai memahami.

Foto anak perempuan itu bukan sekadar foto.

Itu adalah bagian dari hidup yang tidak pernah ia kenal.

"Ada lima anak."

Lihat selengkapnya