Seminggu berlalu sejak Lintang membuka seluruh rahasianya kepada Arga.
Tidak ada lagi kotak kayu yang disembunyikan.
Tidak ada lagi surat yang harus ditulis diam-diam pada tengah malam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, rumah kecil itu terasa dipenuhi kejujuran.
Namun Lintang tahu, satu pengakuan belum menyelesaikan semuanya.
Masih ada orang-orang yang belum mengetahui kenyataan.
Ibunya.
Kakaknya.
Dan seluruh keluarga di kampung.
Suatu malam, Arga meletakkan secangkir teh hangat di depan Lintang.
"Kita pulang ke kampung minggu depan."
Lintang mengangkat wajahnya.
"Pulang?"
"Iya."
"Untuk apa?"
Arga menggenggam tangan istrinya.
"Kalau kamu ingin hidup tanpa rahasia lagi..."
"...kita mulai dari keluargamu."
Wajah Lintang langsung berubah pucat.
"Kalau mereka membenciku?"
"Aku ikut."
"Kalau mereka mengusirku?"
"Aku tetap ikut."
"Kalau mereka tidak mau mengakuiku sebagai anak lagi?"
Arga tersenyum tipis.
"Aku akan berdiri di sampingmu."
Lintang menundukkan kepala.
Selama bertahun-tahun ia membayangkan hari itu dengan ketakutan.
Kini hari itu benar-benar akan datang.
Perjalanan menuju kampung memakan waktu hampir enam jam.
Di kursi belakang mobil, bayi mereka tertidur pulas.
Sepanjang jalan, Lintang lebih banyak diam.
Beberapa kali Arga menggenggam tangannya.
Tanpa banyak kata.
Hanya memastikan bahwa ia tidak sendirian.
Sesampainya di rumah, ibunya menyambut mereka seperti biasa.
"Nak..."
Ibu langsung menggendong cucu laki-lakinya.
"Kamu makin kurus."
Lintang tertawa kecil.
"Ibu selalu bilang begitu."
Namun di balik senyum itu, dadanya dipenuhi gelisah.
Malam harinya, setelah semua anggota keluarga berkumpul, Arga memandang Lintang.
Tatapan itu seolah berkata,
"Aku di sini."
Lintang mengangguk pelan.
Ia berdiri.
Tangannya gemetar.
"Ayah... Ibu... Kak..."
Ruangan perlahan menjadi sunyi.
"Ada sesuatu yang selama ini belum pernah aku ceritakan."
Ibunya tersenyum.
"Cerita saja, Nak."
Lintang menarik napas panjang.
Air matanya mulai mengalir.