Sejak kepulangan dari kampung, hidup Lintang terasa berbeda.
Tidak ada lagi rasa takut setiap kali ponselnya berdering dari nomor keluarga.
Ibunya kini sering menelepon hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan.
Kakaknya mulai mengirimkan foto-foto pakaian anak yang ditemuinya di pasar.
"Ini kira-kira muat untuk Aira?"
"Raka suka warna biru tidak?"
"Kalau Naila, dia masih suka boneka?"
Pesan-pesan sederhana itu membuat hati Lintang hangat.
Rahasia yang selama bertahun-tahun ia lindungi ternyata tidak menghancurkan keluarganya.
Justru memperluas kasih sayang mereka.
Suatu sore, ketika sedang mengajar di Akademi Rupa Cakrawala, Lintang menerima pesan dari keluarga yang selama ini merawat Bintang.
"Bu Lintang, minggu depan Bintang ulang tahun yang kedelapan."
"Kalau Ibu berkenan, kami ingin merayakannya bersama."
Tangan Lintang berhenti di atas meja.
Delapan tahun.
Ia masih ingat malam ketika pertama kali menggendong bayi kecil itu di kamar kos yang sempit.
Kini anak itu sudah duduk di bangku sekolah dasar.
Waktu berjalan terlalu cepat.
Malamnya, Lintang menunjukkan pesan itu kepada Arga.
"Aku ingin datang."
"Kita datang."
Jawaban Arga singkat.
Namun cukup membuat mata Lintang berkaca-kaca.
"Terima kasih."
Arga tersenyum.
"Kamu tidak perlu meminta izin untuk mencintai anakmu."
Kalimat itu kembali menenangkan hati Lintang.
Selama beberapa hari berikutnya, mereka menyiapkan hadiah.
Lintang memilih sendiri sebuah tas sekolah berwarna biru tua.
Di bagian dalam tas, ia menyelipkan sebuah buku tulis dengan sampul bergambar matahari.
Pada halaman pertama, ia menulis,
"Untuk Bintang.Jangan pernah takut bermimpi setinggi langit.Kalau suatu hari nanti kamu lelah, ingatlah bahwa ada seorang ibu yang selalu mendoakanmu, bahkan ketika ia tidak bisa berada di sampingmu.– Ibu."
Ia menutup buku itu perlahan.
Air matanya jatuh membasahi ujung halaman.
Hari ulang tahun itu akhirnya tiba.
Rumah tempat Bintang tinggal dihiasi balon-balon sederhana.
Tidak ada pesta mewah.
Hanya beberapa tetangga dan teman sekolah.
Namun suasananya penuh kehangatan.
Begitu melihat Lintang datang, Bintang langsung berlari.