Enam bulan berlalu sejak Rumah Cahaya dibuka.
Bangunan kecil yang dahulu kosong kini selalu ramai.
Setiap pagi terdengar suara tawa para peserta pelatihan.
Di ruang depan, beberapa perempuan belajar merias wajah.
Di ruang belakang, sebagian lainnya mengikuti kelas kewirausahaan.
Di dinding dekat pintu masuk tergantung sebuah papan kayu bertuliskan:
"Tidak ada orang yang terlalu terlambat untuk memulai hidup kembali."
Kalimat itu ditulis tangan oleh Lintang sendiri.
Rumah Cahaya berkembang jauh melampaui harapannya.
Perempuan yang dulu datang dengan kepala tertunduk kini mulai membuka usaha sendiri.
Siska berhasil membuka studio makeup kecil di rumahnya.
Dinda menjadi asisten pengajar di akademi.
Bahkan beberapa peserta mulai menjadi relawan di Rumah Cahaya.
Mereka datang bukan karena dibayar.
Melainkan karena ingin mengulurkan tangan seperti yang pernah mereka terima.
Melihat semua itu, Lintang semakin yakin.
Kebaikan memang memiliki cara untuk kembali.
Suatu pagi, Bu Ratih datang membawa sebuah amplop putih.
"Ada undangan untukmu."
Lintang membukanya perlahan.
Sebuah yayasan nasional mengundangnya menjadi pembicara dalam seminar bertema "Perempuan, Harapan, dan Kesempatan Kedua."
Ia terdiam.
"Aku?"
Bu Ratih tersenyum.
"Ya, kamu."
"Aku bukan siapa-siapa."
"Justru itu."
"Mereka tidak mencari orang yang sempurna."
"Mereka mencari orang yang kisahnya bisa menyalakan harapan."
Lintang menggenggam surat undangan itu erat.
Dulu ia takut kisah hidupnya diketahui.
Kini justru kisah itulah yang ingin didengar banyak orang.
Hari seminar tiba.
Gedung dipenuhi ratusan peserta.
Saat namanya dipanggil, tepuk tangan bergema.
Lintang melangkah menuju panggung dengan langkah pelan.
Ia berdiri di belakang mimbar.
Beberapa detik ia hanya memandangi wajah-wajah di hadapannya.
Kemudian ia mulai berbicara.
"Ada masa dalam hidup saya..."
"...ketika saya berpikir Tuhan telah menutup semua pintu."
Ruangan menjadi sunyi.
"Saya pernah menjadi mahasiswi yang menggendong bayi ke mana-mana."
"Saya pernah berpindah dari satu kos ke kos lainnya."
"Saya pernah bekerja dengan gaji tujuh ratus ribu rupiah."
"Saya pernah dihina."
"Pernah difitnah."
"Pernah merasa tidak pantas hidup."
Beberapa peserta mulai mengusap mata.
"Tetapi hari ini saya berdiri di sini bukan karena saya lebih kuat dari orang lain."
"Saya berdiri di sini karena saya memilih tidak berhenti."