Sebelum Matahari Pulang

noeeyyy
Chapter #29

Semua Anak Pulang

Rumah Cahaya telah berdiri hampir satu tahun.

Bangunan sederhana itu kini tidak pernah benar-benar sepi.

Setiap pagi selalu ada perempuan yang datang membawa harapan.

Setiap sore terdengar tawa anak-anak yang bermain di halaman.

Namun di balik semua kebahagiaan itu, masih ada satu doa yang belum pernah berhenti dipanjatkan Lintang.

Ia ingin melihat kelima anaknya berkumpul dalam satu rumah.

Bukan sekadar bertemu bergantian.

Tetapi benar-benar duduk di meja yang sama.

Tertawa sebagai saudara.

Keinginan itu akhirnya ia sampaikan kepada Arga.

"Aku ingin mengadakan syukuran kecil di Rumah Cahaya."

"Acara apa?"

"Tidak ada acara khusus."

"Hanya makan siang."

Arga tersenyum.

"Tapi tujuan sebenarnya?"

Lintang memandang halaman yang sedang disapu angin.

"Aku ingin semua anakku pulang."

Mereka mulai menghubungi satu per satu keluarga yang selama ini merawat anak-anak Lintang.

Keluarga Bintang.

Keluarga Aira.

Keluarga Raka.

Keluarga Naila.

Semua menerima undangan itu dengan hangat.

Bahkan mereka menawarkan bantuan memasak.

"Kami juga ingin melihat mereka berkumpul."

Kata salah satu ibu yang selama ini merawat Aira.

Hari Minggu akhirnya tiba.

Rumah Cahaya dihiasi rangkaian bunga matahari dan melati.

Tidak ada dekorasi mewah.

Hanya meja-meja kayu panjang yang dipenuhi masakan rumahan.

Coto.

Pallubasa.

Ikan bakar.

Sayur bening.

Es buah.

Semua dimasak bersama.

Ibunya Lintang sibuk di dapur.

Kakaknya mengatur kursi.

Bu Ratih membantu menerima tamu.

Hari itu, Rumah Cahaya terasa benar-benar seperti rumah.

Mobil pertama tiba membawa Bintang.

Anak laki-laki itu kini telah berusia delapan tahun.

Tubuhnya lebih tinggi daripada terakhir kali Lintang melihatnya.

"Ibu!"

Ia berlari memeluk Lintang tanpa ragu.

Lintang mengecup keningnya.

"Selamat datang, Nak."

Tak lama kemudian datang Aira.

Gadis kecil berusia lima tahun itu membawa boneka kelinci yang selalu menemaninya tidur.

Ia masih pemalu.

Namun begitu melihat Lintang, ia langsung mengulurkan tangan.

"Mama..."

Satu kata itu cukup membuat air mata Lintang jatuh.

Kemudian Raka datang.

Anak laki-laki empat tahun itu langsung berlari ke halaman, mengejar kupu-kupu tanpa sempat menyapa siapa pun.

Semua orang tertawa.

Terakhir datang Naila.

Balita kecil itu masih digendong.

Begitu diturunkan, ia berjalan tertatih menuju Lintang.

"Ma..."

Lintang berlutut dan memeluk putrinya erat.

Lihat selengkapnya